Harapan Putra

Delivery to you the hottest news from harapanputra.com 2013 everyday with no delay

Home » All posts

Berbagi Tips Menghangatkan Ranjang

2017 No comments:
Berbagi Tips Menghangatkan Ranjang
Pada kesempatan ini aku ingin berbagi pengalaman rumah tanggaku. Aku dan Mas Teddy (bukan nama sebenarnya) sudah menjalani usia pernikahan selama 17 tahun dan kami punya 2 anak yang beranjak remaja.

Semenjak 5 tahun belakangan ini bara api kehidupan ranjangku dengan Mas Teddy kurasakan meredup, seiring dengan meningkatnya karir Mas Teddy. Ia jadi jarang pulang tepat waktu. Paling cepat ia sampai di rumah jam 9 malam. Itu pun kadang masih harus menerima telepon dari atasan atau sejawatnya. Akibatnya, frekuensi hubungan intim kami jadi turun drastis. Kalau dulu kami melakukannya 5 sampai 6 kali seminggu, belakangan satu bulan sekali pun belum tentu. Aku tak sampai hati minta jatah padanya, apalagi kalau melihat wajahnya yang kuyu dan letih. Biasanya, sampai rumah ia langsung mandi dan setelah ngobrol sebentar denganku dan anak-anak ia tidur.

Pernah suatu ketika, saat ia sedang tidur dan libidoku meronta-ronta ingin disalurkan, kubuka celana Mas Teddy dan kukulum “senjata”nya. Aku berharap Mas Teddy terangsang dan bangun sebentar untuk melayaniku. Anehnya, “senjata”nya memang berdiri, tapi ia tetap ngorok. Akupun akhirnya main sendiri dengan “senjata”nya sampai aku orgasme, dan setelah itu kubenahi lagi celananya. Meskipun agak kecewa, tapi lumayanlah. Yang penting dapet, daripada tidak sama sekali

Suatu saat aku mengikuti piknik ke luar kota selama 2 hari bersama ibu-ibu teman arisanku. Aku sekamar dengan Bu Risa (nama samaran), seorang wanita paruh baya yang suaminya menduduki jabatan penting di perusahaan ternama. Malam hari usai makan malam aku dan Bu Risa ngobrol banyak di kamar, mulai membahas soal anak masing-masing sampai ke urusan ranjang. Ternyata Bu Risa juga pernah mengalami masalah yang mirip dengan masalahku. Bahkan lebih parah, karena suaminya sempat berselingkuh dan beberapa tahun setelah perselingkuhannya berakhir, suaminya tiba-tiba saja impoten. Dengan kesabaran dan keuletan akhirnya suami Bu Risa pulih kembali. Aku salut padanya, karena meskipun suaminya selingkuh, tapi ia tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya. Aku juga mendapat pelajaran berharga dari Bu Risa dan bertekad untuk mempraktekkannya demi menghangatkan kembali ranjang kami yang telah lama dingin.

Pertama, setiap pagi dan malam kusiapkan minuman khusus untuk Mas Teddy, berupa campuran kuning telur kampung, madu dan merica hitam yang diseduh dengan air jahe. Kukatakan pada Mas Teddy kalau minuman itu akan menjaga staminanya agar selalu fit bekerja, di samping sebagai daya tahan tubuh. Untungnya suamiku menurut dan menenggak habis minuman itu.

Kedua, kubeli baju tidur dan pakaian dalam sexy beberapa model sekaligus. Aku pun pergi ke salon untuk mengubah gaya rambutku yang dari dulu itu-itu saja. Tak lupa aku mencukur habis bulu kemaluanku agar terlihat tampil beda.

Ketiga, aku rajin membersihkan “milikku” dengan cara merendam bagian bawah tubuhku di ember berisi air hangat yang kuberi beberapa helai daun sirih. Kata Bu Risa, daun sirih akan membuat miss V keset dan rapet.

Beberapa hari kemudian aku mulai menikmati hasilnya. Mas Teddy pulang dalam keadaan masih segar. Dan matanya membeliak saat melihatku mengenakan baju seksi tembus pandang. Aku tak perlu minta karena ia sudah menerkam dan mencumbuiku habis-habisan. Ia pun tampak sangat menikmati “milikku” yang bersih dari bulu. Kubiarkan lidahnya menari-nari di sana dan kunikmati benar-benar karena sudah lama aku tidak merasakannya.

Lambat laun kehidupan seks kami membara kembali. Itu karena aku selalu berinisiatif melakukan variasi agar Mas Teddy betah bersamaku. Contohnya, waktu itu kami berdua baru pulang dari menghadiri resepsi pernikahan salah seorang anak buah Mas Teddy. Di jalan yang sepi dan agak gelap menuju kompleks perumahan kami, kuminta Mas Teddy untuk melambatkan mobilnya. Setelah itu kubuka resleting celananya, kukeluarkan “senjata” Mas Teddy dari dalam celana dalam, lalu kukulum habis-habisan. Aku pun sengaja mengeluarkan suara-suara sensual dan erotis di setiap goyangan kepalaku. Mas Teddy tampak senang dengan perlakuanku. Kami berputar-putar kompleks sampai 3 kali baru Mas Teddy ejakulasi. Ia terpana saat mengetahui kalau spermanya kutelan bulat-bulat, suatu hal yang baru kali itu kulakukan. Memang ada rasa risih dan mengganjal di tenggorokan, tapi demi kebahagiaan suamiku, aku rela melakukannya. Akhirnya menelan sperma jadi agenda rutin setiap kali kami pergi berdua atau saat aku sedang menstruasi.

Variasi lain yang membuat Mas Teddy takjub adalah ketika ia selesai mandi sepulang kerja jam 10 malam, aku sudah siap dengan hanya mengenakan BH dan celana dalam sexy berenda-renda yang menjadikannya tembus pandang, tapi aku tak melepas jilbabku. Kurebahkan tubuhku di kasur menunggu Mas Teddy keluar dari kamar mandi. Ia tercengang melihatku dan tanpa pikir panjang melepas handuk yang menutup bagian bawah tubuhnya. Ia membombardirku dengan ciuman panas di sekujur tubuhku tanpa melepas BH, celana dalam dan jilbabku. Ia sibak BH-ku saat mencumbui payudaraku, dan melakukan penetrasi di sela-sela celana dalamku. Tak heran jika kemudian celana dalamku belepotan dengan spermanya.

Tampaknya ia menikmati sensasi bercinta kali itu dengan mengucapkan, “Baru kali ini aku menyetubuhi perempuan berjilbab dan berpakaian dalam seksi”. Aku hanya tersenyum sambil mencubit mesra pinggangnya.

Yang tak kalah sensasionalnya adalah saat kami bercinta di kantornya. Ceritanya waktu itu sekitar jam 7 malam, aku sedang belanja di minimarket dengan diantar anak sulungku. Selesai belanja Mas Teddy meneleponku. Ia minta aku datang ke kantornya saat itu juga. Sambil berbisik ia minta aku untuk tidak pakai celana dalam. Dalam hati aku tersenyum dan tahu apa yang diinginkannya. Karena kantornya tak begitu jauh, aku dan anakku langsung meluncur ke sana. Sesampainya di kantor kuminta anakku untuk menunggu di mobil, sementara aku naik ke kantor Mas Teddy di lantai 5. Suasana kantor sudah agak sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang kulihat masih sibuk di mejanya. Aku mampir sebentar ke toilet untuk buang air kecil sekaligus melepas celana dalam dan kumasukkan tasku.

Benar saja. Sampai di ruang kerjanya, Mas Teddy langsung mengunci pintu dan menghujaniku dengan ciuman penuh nafsu. Katanya, saat itu sedang jeda rapat, dan ia merasa terangsang karena ingat padaku. Ketika kami sudah sama-sama terangsang, aku didudukkannya di meja kerjanya, lalu ia menghunjamkan ““senjata”nya” yang tegak berdiri dengan gagahnya. Begitu aku orgasme, aku merubah posisi jadi menungging dengan kedua tanganku bertumpu di meja. Tapi dasar Mas Teddy termasuk perkasa soal seks, apalagi sejak kuberi ramuan khusus, ia tak kunjung ejakulasi sampai akhirnya kukulum “senjata”nya yang basah oleh cairanku sampai ia klimaks dengan spermanya menghuni perutku. Setelah itu aku pulang, sementara Mas Teddy melanjutkan rapat.

Satu hal lagi yang juga jadi “oven” untuk memanaskan bara api hubungan intim, yaitu melakukan masturbasi bersama. Waktunya seperti biasa, malam hari saat Mas Teddy selesai mandi. Saat ia mandi aku sudah telanjang bulat dan mulai merangsang diriku sendiri dengan jariku. Begitu Mas Teddy selesai mandi, lagi-lagi ia terpana melihat aksiku. Sambil mendesah-desah penuh kenikmatan kuminta Mas Teddy juga melakukan hal sama. Ia pun membuka handuknya dan berbaring di ujung ranjang, sementara aku di ujung satunya. Mas Teddy meremas-remas dan mengocok pelan ““senjata”nya” yang tak butuh waktu lama untuk ereksi. Sambil saling memandang mesra kami memainkan organ intim kami masing-masing. Aku menjerit tertahan saat kucapai orgasme pertamaku. Kupandangi Mas Teddy dengan tatapan sayu dan kugeser tubuhku mendekatinya.

“Masukin, Mas … Ayo masukin, Mas”, pintaku. Dan Mas Teddy pun melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Aku tidur pulas dalam keletihan setelah dibuat orgasme 4 kali oleh Mas Teddy.

Begitulah pengalamanku. Semoga bermanfaat, khususnya bagi para wanita yang merasa kehidupan ranjangnya tak sepanas dulu. Terima kasih. [Rina (nama samaran), 48 tahun, Bekasi]
Selengkapnya → Berbagi Tips Menghangatkan Ranjang

Get Cracked Pc Softwares, Pc Games, Android Games And Apps

2017 No comments:
Get Cracked Pc Softwares, Pc Games, Android Games And Apps
Pc Softwares Registered Full Versions Free!
Get Pc Softwares, Pc Games, Full Version Cracked Pc Softwares, HD Wallpapers, Cracked APK Android Games, Cracks For Pc Softwares, Direct Link Pc Games, Latestuploads.in, Cracked Full Version PC Games For Free, Latestuploads.com, Patches, Keygens, Activators, License Codes, Serial Numbers, For Pc Games And Softwares, Cracked Android APK Apps

Windows 8.1 AIO 7in1 + Activator Bootable ISO Download Links
Battlefield 4 Full HD Themepack Download Links
Batman Arkham Origins Full HD Themepack Download Links
IDM 6.18 Build 4 (2013) + Crack Incl Serials Download Links
Battlefield 4 PC-Reloaded Skidrow + Blackbox Download Links
Microsoft Office 2003 Project Professional Full Version Download Links
Best HD Wallpapers Pack 1 (2013) Download Links
Windows 8.1 Pro + Enterprise + Media Center Activator Full Download Links
Batman Arkham Origins PC - Reloaded Skidrow Download Links
Assassins Creed IV Black Flag XBOX 360 Download Links
Adobe Audition CS6 Cracked Full Version Download Link
Pro Evolution Soccer PES 2014 Patch v1.1 Download Link
Splinter Cell Blacklist- Blackbox Repack Pc Game Direct Download Links
WWE BattleGround 2013 06 October 2013 HDTV Download Links
Computer Desktop HD Wallpapers Collection Part (2) Download Links
F1 (2013) PC-Game Reloaded Skidrow Download Links
Air Conflicts Vietnam PC Game Reloaded Skidrow Download Links
Windows XP Pro Genuine (x64) Bootable Download Links
Project IGI I'm Going In (Highly Compressed) Pc Download Links
NBA 2K14 - PC Game Direct Resumeable Download Links
Battlefield 4 Alpha Trial - 3DM Direct Resumeable Download Links
Windows XP Professional Genuine Service Pack 3 (x86) Bootable Download Links
Bitdefender Total Security 2014 With Crack Full Version Download Links
Mr. Bean (TV Series 1990) Complete Season Download Links
Fifa 14 Pal Repack XboX360-INSOMNI Download Links
Selengkapnya → Get Cracked Pc Softwares, Pc Games, Android Games And Apps

Smartphone Terbaik Baterai 4000 mAh RAM 6 GB Kamera 16 MP

2016, 2017 No comments:
Tampaknya smartphone dengan baterai besar tidak akan pernah kadaluwarsa. Kali ini, kami telah mengumpulkan 10 smartphone terbaik dengan berbaterai 4000 mAh pada Januari 2017. Mari kita telusuri bersama.Kami telah mengumpulkan 10 Smartphone terbaik berbaterai 4000 mAH pada Januari 2017

1 Vivo Xplay 6

Vivo Xplay 6 tentunya merupakan penerus dari Vivo Xplay 5 Elite. Seperti pendahulunya, smartphone ini juga hadir dengan chipset Snapdragon 820 quad-core 2,1 GHz dan RAM 6 GB. Pada bagian depannya, kita dapat menjumpai layar 5,46 inci Quad HD dengan dua sisi lengkung, kamera 16 MP berdiafragma f/2.0 untuk berfoto selfie, serta pemindai sidik jari. Wah, foto selfie kalian pasti menawan! Spesifikasi lainnya meliputi Funtouch OS 3.0 berbasis Android 6.0 Marshmallow, memori internal 128 GB (tanpa dukungan slot microSD card), kamera utama ganda (12 MP + 5 MP), serta baterai 4080 mAh.

Harga Vivo Xplay 6 berkisar $651 atau Rp 8,8 juta.


2 Lenovo K6 Power

Berikutnya adalah Lenovo K6 Power, yang hadir dengan layar 5 inci Full HD, chipset Snapdragon 430 octa-core 1,4 GHz, RAM 3 GB, memori internal 32GB (didukung slot microSD card), Android 6.0 Marshmallow, dan pemindai sidik jari. Spesifikasi lainnya juga menarik, meliputi teknologi audio Dolby Atmos, TheaterMax, kamera utama 13 MP, dan kamera depan 8 MP.

Harga Lenovo K6 Power berkisar $145 atau Rp 2 juta.

3 Meizu M5 Note

Yang ketiga adalah Meizu M5 Note yang dibekali layar 5,5 inci Full HD, Flyme 6 berbasis Android 6.0 Marshmallow, chipset Helio P10, kamera utama 13 MP, kamera depan 5 MP, pemindai sidik jari, dan baterai 4000 mAh.

Perlu diketahui bahwa Meizu M5 Note tersedia dalam tiga varian yang tentunya dapat dibeli dengan harga yang berbeda pula. Harga varian RAM 3 GB + ROM 16 GB berkisar $130 (Rp 1,75 juta), varian RAM 3 GB + ROM 32 GB berkisar $144 (Rp 1,95 juta), dan varian RAM 4 GB + ROM 64 GB berkisar $216 (Rp 2,9 juta).

4 + 5 Xiaomi Redmi 4 dan Redmi 4 Prime

Selanjutnya, ada dua smartphone Xiaomi yaitu Redmi 4 dan Redmi 4 Prime. Keduanya memiliki banyak persamaan, seperti layar 5 inci, MIUI 8 berbasis Android 6.0 Marshmallow, slot microSD card, kamera utama 13 MP + kamera depan 5 MP, pemindai sidik jari, dan baterai 4100 mAh.

Namun, ada perbedaan yang perlu diketahui. Redmi 4 dibekali layar HD, chipset Snapdragon 430 octa-core 1,4 GHz, RAM 2 GB, dan memori internal 16 GB. Sementara itu, spesifikasi Redmi 4 Prime lebih baik, meliputi layar Full HD, chipset Snapdragon 625 octa-core 2,0 GHz, RAM 3 GB, dan memori internal 32 GB.

Harga Xiaomi Redmi 4 mulai dari $104 (Rp 1,4 juta), sedangkan harga Xiaomi Redmi 4 Prime mulai dari $133 (Rp 1,8 juta.

6 Gionee GN5005

Yang keenam adalah Gionee GN5005 yang belum lama ini terlihat di situs TENAA. Tampaknya Gionee GN5005 bukan nama sesungguhnya dari smartphone tersebut, namun spesifikasinya cukup menarik. Menurut situs tersebut, spesifikasinya akan meliputi prosesor quad-core 1,25 GHz, layar 5 inci HD, RAM 3 GB, memori internal 16 GB, kamera utama 8 MP + kamera depan 5 MP, Android 6.0 Marshmallow, serta baterai 4000 mAh. Kita nantikan saja.

7 Huawei Mate 9

Melanjutkan daftar ini adalah Huawei Mate 9, salah satu smartphone papan atas terbaru dari Huawei yang hadir dengan layar 5,9 inci Full HD, Android 7.0 Nougat dengan antarmuka EMUI 5.0, chipset Kirin 960 octa-core 2,4 GHz, memori internal 64 GB (didukung slot microSD card), RAM 4 GB, pemindai sidik jari, dan baterai 4000 mAh. Untuk memotret foto, terdapat kamera utama ganda (20 MP + 12 MP) serta kamera depan 8 MP.

Harga Huawei Mate 9 mulai dari $773 atau Rp 10 juta.

8 Videocon Ultra30

Yang kedelapan adalah Videocon Ultra30, nama yang cukup asing dibandingkan smartphone lainnya dalam daftar ini. Spesifikasinya meliputi konektivitas 4G LTE, Android 6.0 Marshmallow, layar 5 inci HD, chipset MediaTek MT6735 quad-core 1,3 GHz, RAM 3 GB, memori internal 32 GB + microSD card hingga 64 GB, kamera utama 13 MP, dan kamera depan 5 MP. Menariknya, Di dalamnya terdapat baterai 4000 mAh yang didukung teknologi fast charging. Kalian tidak perlu khawatir kehabisan baterai setelah penggunaan selama setengah hari.

Harga Videocon Ultra30 mulai dari $126 atau Rp 1,7 juta.


9 Huawei Enjoy 6

Yang kesembilan adalah Huawei Enjoy 6 yang dibekali layar 5 inci HD, EMUI 4.1 berbasis Android 6.0 Marshmallow, chipset MediaTek MT6750 octa-core 1,4 GHz, RAM 3 GB, memori internal 16 GB (didukung slot microSD card), kamera utama 13 MP + kamera depan 5 MP, pemindai sidik jari, dan baterai 4100 mAh. Secara umum, spesifikasinya cukup baik untuk smartphone kelas menengah.

Harga Huawei Enjoy 6 berkisar $190 atau Rp 2,56 juta.

10 Samsung Galaxy C9 Pro

Yang terakhir adalah Samsung Galaxy C9 Pro, terlihat menawan seperti sebuah smartphone premium. Beberapa spesifikasi utamanya yang perlu kalian ketahui meliputi layar 6 inci Full HD, chipset Snapdragon 653 octa-core 1,95 GHz, RAM 4 GB, memori internal 64 GB (didukung slot microSD card), pemindai sidik jari, dan baterai 4000 mAh. Untuk fotografi, terdapat kamera utama dan depan yang sama-sama beresolusi 16 MP.

Harga Samsung Galaxy C9 Pro berkisar $470 atau Rp 6,35 juta.
Selengkapnya → Smartphone Terbaik Baterai 4000 mAh RAM 6 GB Kamera 16 MP

Smartphone Nokia Ram 3 GB Monster Keyboard QWERTY

2016 No comments:


Nokia Express Music vs BlackBerry Priv: Dua Smartphone Dengan Keyboard QWERTY

Seirin dengan Nokia yang menegaskan kebangkitannya kembali ke pasar smartphone, berbagai konsep smartphone Nokia pun bermunculan. Salah satu yang paling menarik adalah Nokia Express Music. Nah, pada artikel ini, kami ingin membandingkannya dengan BlackBerry Priv, smartphoe dengan keyboard QWERTY.


Nokia Express Music vs BlackBerry Priv – Desain dan spesifikasi

Untuk memulainya, mari kita perhatikan desainnya. Pada pandangan pertama, kedua smartphone tersebut memiliki tampilan elegan dan berkelas tinggi. Seperti yang kita ketahui, ponsel Nokia Express Music sangat sukses pada masa kejayaan si raksasa di masa lalu. Tentunya konsep ini meneruskan kesuksesan pendahulunya. Nokia Express Music tampil dengan unibodi berbahan logam yang terlihat agak tebal. Di bawah layarnya tersembunyi keyboard QWERTY. Sementara itu, BlackBerry Priv juga hadir dengan unibodi berbahan logam, namun dengan keyboard QWERTY yang dapat digeser. Kedua smartphone ini tentu mengingatkan kita pada masa lalu!

Berikutnya, mari kita bandingkan performanya. Seperti yang kita ketahui, BlackBerry Priv diperkuat chipset Snapdragon 808 yang dipadukan dengan RAM 4 GB. Di sisi lain, Nokia Express Music dibekali RAM 4 GB, namun chipsetnya masih belum diketahui. Diyakini Nokia akan membekali dengan chipset terbaru saat ini. Sementara itu, untuk menyimpan data, BlackBerry Priv memiliki memori internal 32 GB, sedangkan pesaingnya dibekali memori internal 64 GB. Untuk kalian yang memerlukan media penyimpanan tambahan, kalian tidak perlu khawatir karena kedua smartphone ini dilengkapi slot microSD card.



Untuk fotografi, Nokia Express Music hadir dengan kamera utama 18 MP yang menggunakan lensa Carl Zeiss. Kamera utama BlackBerry Priv juga beresolusi 18 MP tetapi menggunakan lensa Schneider Kreuznach. Cukup sulit untuk menentukan mana yang lebih unggul. Untuk berfoto selfie, smartphone Nokia tersebut menawarkan kamera depan lebih baik dengan resolusi 8 MP, sedangkan kamera depan pesaingnya hanya beresolusi 2 MP. Terkait dengan sistem operasi, Nokia Express Music menjalankan Windows, sedangkan BlackBerry Priv dengan Android. Menariknya, untukkalian yang gemarmendengar lagu, Nokia Express Music hadir dengan wireless headphone yang impresif.

Nokia Express Music vs BlackBerry Priv – Harga

Yang terakhir, mari kita bandingkan harganya. Saat ini, kalian dapat membeli BlackBerry Priv dengan harga sekitar $399 atau Rp 5,4 juta. Sementara itu, harga Nokia Express Music masih belum diketahui. Diperkirakan kita baru akan mengetahuinya pada kuartal kedua 2017. Sebagai kesimpulan, Nokia Express Music lebih unggul dari BlackBerry Priv berkat spesifikasi lebih baik serta aksesori headphone yang eksklusif.
Selengkapnya → Smartphone Nokia Ram 3 GB Monster Keyboard QWERTY

Bude Yayuk [Kisah Nyata]

2016 No comments:

Beliau adalah kakak kandung dari istri kedua pamanku. Selisih umur dengan adiknya sekitar 3 tahun, mendekati 50 tahun. Sehari-hari mengajar di sekolah dasar di kota Malang, dengan baju tertutup hingga kepala. Bila di rumah berpakaian seperti ibu-ibu kebanyakan yaitu daster, yang 90% tertutup. Berkulit putih dengan wajah biasa saja, sedikit gemuk. Berkarakter tegas dan sedikit galak. Suaminya sudah tiada 5 tahun kemarin.

Tidak ada yang istimewa setiap kali kami bertemu. Mengobrol juga sekedarnya saja, kedekatannya ngobrol lebih kepada kakakku. Bulan-bulan ini bude sedang puber kedua, sebab bertemu dengan teman lama saat masih pendidikan yang rupanya telah menyimpan benih-benih asmara sejak dulu. Hanya saja baru menyadarinya belakangan ini. Bude sering berkonsultasi dengan ayah dan kakak, juga pada istri pamanku. Mereka menyarankan agar segera saja untuk kawin siri sementara ini, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Hari itu bude datang ke rumah paman dimana aku kebetulan juga bermaksud menginap karena kangen dengan ponakan-ponakan. Saat itu ponakan-ponakan sedang di kamar, sedang paman dan istrinya tidak di rumah. Bude lalu berkata: “mas Iwan..bude mau mandi dulu ya. Terus tidur sebentar sambil nunggu dik Sih”. “Oh ya bude..monggo (silakan),” jawabku saat sedang membaca buku. Sumpah..tidak terlintas sedikit pun untuk niatan mengintip. Ketika aku melewati kamar mandi selintas ekor mataku menangkap cahaya di lubang kunci pintu..ting tong..that’s mean tidak tertutup. Kembali kulewati kamar mandi dan sengaja kuperhatikan dengan seksama. Ya..lubang kuncinya tidak tertutup. Hatiku berdegup kencang dan perang kalimat pun berseliweran. “Laopo ape mbok inceng..wong wes tuwo. Awake yo rodo lemu (ngapain mau kamu intip, dia udah tua. Badannya juga agak gemuk)”. “Kapan maneh..kesempatan sing bener-bener langka. Paling gak digawe tambahan koleksi nginceng (kapan lagi..kesempatan yang benar-benar langka. Paling nggak buat tambahan koleksi ngintip)”.

Mungkin setan sedang menang undian. Kurapatkan tubuhku dengan pintu kamar mandi tetapi tetap sangat hati-hati untuk tidak bersuara. Sedikit demi sedikit aku berjongkok. Kudekatkan mataku ke lubang kunci, tidak langsung mengintip. Sebab ada kemungkinan bude sedang mengguyur badannya dan secara kebetulan matanya menatap arah pintu maka bisa jadi terlihat sinar mataku. Tidak..posisi bude menghadap tembok yang dibawahnya ada kran dan ember untuk mandi. Jadi sangat aman. Sambil berdoa ponakan-ponakanku tidak mendadak muncul dari kamar. Terlihat paha gempal putih dan sedikit bulatan bokong kirinya. Bude lalu duduk di kursi kecil yang memang disediakan di kamar mandi. Aku menahan napas yang telah megap-megap dan kutarik kepalaku menjauh. Aku mendekatkan kepala kembali dan kuturunkan sedikit pandanganku. Susu bude sebelah kiri terlihat. Sudah turun dengan ukuran lumayan, puting tetap kecil walau telah beranak 3 dan areola yang normal ukurannya.

Bude menggosok leher dengan sabun, lalu turun ke punggung dan kedepan. Diusapnya kedua susu dua kali lalu tangannya turun menggosok bagian bawah tubuhnya. Aku putuskan untuk mengakhiri acara mengintip dengan pertimbangan sudah cukup, terlebih menjaga kemungkinan kedua ponakan jika tiba-tiba keluar kamar. Celanaku membesar di bagian kemaluan dengan tidak kusadari. Terlintas kembali tubuh bude saat aku duduk di sofa kembali membaca buku. Ahh..jadi membayangkan yang tidak-tidak. Kulanjutkan membaca di kamar agar kondisi kemaluan yang masih membesar tidak terlihat oleh bude.

Sekitar pukul 11 siang paman dan istrinya datang. Kemudian aku menyampaikan kabar bahwa ada bude Yayuk. Mereka kemudian berbincang serius juga sering bercanda. Aku tidak ikut dalam pembicaraan karena kupikir itu bukan urusan anak-anak. Biarlah orang dewasa yang merumuskannya. Pembicaraan terhenti sejenak ketika saat makan malam agar anak-anak tidak ikut mendengarkan. Jarum jam berada pada angka sembilan malam. Istri paman: “mbak..aku tak turu sik yo. Wes ngantuk..mulai isuk resik-resik terus riwa riwi. Ben dikancani mas Iwan ae yo. Areke iso sembarang iku..hehehe (mbak..aku mau tidur duluan ya. Sudah ngantuk..sejak pagi bersih-bersih rumah terus kesana sini. Biar ditemani mas Iwan aja ya. Anaknya apa aja bisa..hehehe)”. Aku yang saat itu sedang bersms di sofa langsung terhenti sambil menatap tante Sih serta bude. “Waduh..mbahas opo iki. Jangan-jangan.. (waduh..mereka sedang membahas hal apa nih. Jangan-jangan..)”, pikiranku berkecamuk. Rupanya tante telah bercerita kepada bude bahwa aku sedikit bisa menerawang. “Walah..akhire melok urusan..hmm (walah..akhirnya kesangkut urusan kayak gini juga..hmm)”.

Kami ditinggal berdua di ruang tamu. Aku lalu mendekat agar tidak dikira menjauh atau tidak mau diganggu. “Iya mas..mbok bude dibantu ini.. (iya mas..bude tolong dibantu ini..)”. “Dibantu gimana bude..dibujuki tante. Wong aku gak bisa apa-apa (dibantu gimana bude..ditipu tante itu. Aku nggak bisa apa-apa)”. “Halah gitu..nggak mau mbantu bude ini? (ah gitu deh..nggak mau bantu bude ini?)” “Dik Sih mungkin sudah cerita ke mas Iwan tentang kondisiku sekarang. Mbok aku dibantu biar bisa dekat sama mas Didik”. Sejenak kutarik napas,”emm..gini bude. Bukan aku nggak mau bantu kan udah ada paman sama tante. Udah terlanjur bocor ya mau nggak mau..”, sambil aku tersenyum. “Nah gitu..biar bude ada pemikiran lain kan lebih enak..”, bude tersenyum senang. “Gini bude..biar pak Didik yang lebih tegas. Nggak nggantung kayak sekarang. Maju nggak mundur nggak. Kalo aku lebih baik berhenti sekarang sebelum perasaan sudah melangkah lebih jauh. Jadi temen aja seperti sebelumnya”. “Waduh..lha memang sekarang kita sudah ada perasaan. Terutama dia. Sering sms dan tlp sampe malem”. “Hmm..apalagi udah seperti sekarang bude..”.

Kami lalu terus berbincang dimana aku lebih sering diam dan sesekali menimpali. Bude dalam hal ini termasuk ngeyel (ngotot). Aku memahaminya tetapi jika nanti apa yang aku takutkan terjadi maka aku ikut sedih. Mataku mulai sedikit memerah karena ngantuk ditambah kengeyelan bude. Kulirik jam dinding yang mendekati pukul 12. “Bude nggak ngantuk? Dilanjut besok lagi aja ya..”, terpaksa aku “mengusirnya” dengan bahasa yang halus. Sebab bisa sampai subuh membahas cinta apalagi dalam puber kedua. “Udah ngantuk ya mas? Emm..dilanjut di kamar aja ya..kalo nanti ketiduran ya gak apa-apa..hehe”. “Aduh..piye iki. Ahh..nek ngkok keturon yo wes (aduh..gimana ini. Ahh..kalo sampe ketiduran ya udah)”. “Terserah bude..”. Jret..terlintas kembali bentuk tubuh bude. Kemaluanku membesar dengan pasti. “Mati aku..ujug-ujug ngaceng. Nek bude eruh piye iki..mbuhlah..dipikir ngkok.. (mati aku..tiba-tiba ngaceng. Kalo sampe bude tahu gimana nih..biar dipikir nantilah..)”. Kami lalu menuju kamar tamu yang posisinya sedikit di belakang kamar-kamar lain.

Aku baru sadar bahwa tempat tidur hanya satu, spring bed lebar. Tanpa berkata kuambil selimut lalu kubentangkan di bawah tempat tidur. “Ehh mas ngapain..tidur di atas aja. Wong luas kok. Kalo besok masuk angin bude yang disalahin dik Sih..”. “Engg..iya bude..”, sambil kugaruk-garuk kepala yang jelas tidak gatal. Bude mengambil posisi kiri lalu meletakkan satu guling di tengah-tengah. Pembicaraan kembali dilanjutkan. “Bahkan dia beberapa kali bilang pas nelpon..dik..manukku ngadeg nek pas nelpon awakmu ngene iki (dik..penisku ngaceng tiap telpon kamu seperti sekarang). Bude ya bilang halah..ono-ono ae mas (ahh..mas ini ada-ada aja)”. “Ya rata-rata gitu bude kalo ada perasaan..gampang naik..hehe”, jawabku sambi menatap plafon. “Pernah juga bilang awakmu tambah seger ae dik..ndemenakno (badanmu tambah seger aja dik..menggairahkan). Bude terus bilang wah..koyok arek enom ae rayuane mas (wah..seperti anak muda aja ngrayunya mas)”. “Namanya juga sedang seneng bude..”. Kurasakan arah obrolan mulai menjurus dewasa. Mau nggak mau kemaluanku mulai bergerak kembali. “Jangan marah ya bude..” “Marah kenapa mas..” “Gini..umpama jadi. Kayaknya pak Didik cuma 5 menit paling lama..”. “Ahh..mosok sih mas (ahh..masak sih mas). Wong dia rajin olahraga dan nggak pernah main perempuan..”, bude kaget lalu memiringkan tubuhnya ke kanan. “Yaa ngg tau sih bude..itu yang tak liat..”. “Waduh..terus gimana baiknya mas Iwan..bude kan nggak pengen cepet gitu..”. Raut wajah bude terlihat sedih. “Maaf bude..lebih baik aku ngomong jeleknya sekarang. Daripada nanti bude ngarepnya hot ternyata nggak kan kecewa’.
“Iya sih..terus gimana mas..” “Ya nyari orang bisa mijet bude. Biar urat dan syaraf-syarafnya diatur lagi. Kalo bude sih nggak gitu perlu”, aku menjawab sesekali dengan miring ke kiri. Aku nggak mau terlihat mulai hangat wajahku. “Mas Iwan nggak bisa mijet?” “Bukan bidangku bude..hehe. Kalo sekedarnya aja bisa. Ngilangin pusing atau capek. Tapi nggak terlalu bisa”. “Dipijet mananya mas?” Kuraih tangan kanannya lalu kuurut telapaknya, tanpa terbersit lebih jauh. “Aduh..sakit mas..itu kenapa?” “Mungkin bude capek, juga karena ada masalah ini”. “Hm..mungkin juga. Terusin mas..udah nggak terlalu sakit. Sebentar..tak ambil lotion dulu”. Otak dan hatiku saling mendahului. “Piye iki..nek pijete keterusan..(gimana nih..kalo mijatnya keterusan)”. “Nek sampe kedaden yo wes..sing penting gak ono sing curiga (kalo sampe kejadian ya udah..yang penting nggak ada yang curiga)”. Sinar lampu telah berganti 10 watt sejak kita masuk kamar. Kembali bude berbaring di kiriku. Aku beranjak bangun karena tidak mungkin memijat dengan berbaring. Kutuang sedikit body lotion di tangan kanan atas lalu kuurut pelan-pelan. Bergantian dengan yang kiri. Beruntung lengan bude tidak tertutup daster sebab bakal susah untuk menggulungnya. Bude menatap langit-langit, sesekali mengernyitkan dahi tanda merasa sakit.

Aku mendekatinya,”nuwun sewu bude..dahi sekarang (permisi bude..dahi sekarang)”. “Hm..iya..nggak apa-apa mas..”. Bude memejamkan mata. Kuurut pelan dengan posisiku yang bersimpuh di dekatnya. Kemudian aku hentikan. “Lho kok berhenti mas..pundaknya nggak sekalian?” “Pundak juga bude?” “Iya..sekalian aja..”. Bude lalu telungkup dengan kepala menghadap kanan. Guling yang ditengah aku singkirkan. Kedua lengan bude aku letakkan sedikit menjauh di sisi tubuhnya. Dag dig dug makin terdengar kencang. “Nuwun sewu bude..(permisi bude..)”, lalu aku berada di atas bokongnya tapi masih berjarak lumayan. “Nggak apa-apa mas..gimana enaknya aja..” “Hmm..iki gak ono opo-opo opo pancingan..? (hmm..ini memang nggak ada apa-apa atau sedang memancing aku?)” “Beres bude..hehe..”, aku bercanda untuk mengurangi gugup. Kuurut dan pijat pundaknya. Lalu kembali lengan kiri dan kanan hingga kurasa cukup. Nafas bude teratur naik turun, mungkin sudah tertidur. Tapi ketika aku akan turun,”kaki sampe atas juga ya mas..nanggung. Besok bude traktir deh..”. Ternyata bude belum tidur. “Nggih bude..terserah bude (ya bude..terserah bude). Ya ngg usah nraktir bude..kayak sama siapa aja..hehe”. “Waduh..makin deg deg ser ngene keadaane (waduh..makin deg deg ser gini keadaannya)”. Aku mulai memijat dan urut dari kaki kanan lalu berganti yang kiri. Belum berani naik ke paha.

Dua detik aku berpikir, lanjut ke paha atau selesai. Kepalang tanggung. Bude sudah memberi ijin. Kalau sampai terjadi persetubuhan aku berharap tidak terjadi permasalahan di kemudian hari. Aku gulung dasternya pelan-pelan ke atas hingga setengah paha. Kemudian aku bersimpuh di tengah dua kakinya. Kemaluanku mulai bangun. Body lotion kutuang langsung di paha kiri dan kanan lalu kuurut pelan. Dalam kondisi sudah sedemikian aku masih menahan untuk tidak mengurut sampai ke bokongnya. Kembali kuurut dari kaki terus ke paha. Kuputuskan menggulung daster hingga ke pinggang bude. Celana dalam bude warna coklat muda. Bentuk bokongnya masih mengkal. Kemaluanku sudah 80% yang sebisanya kutahan untuk full ngaceng. Dari paha kanan dan kiri kuteruskan mengurut hingga dua bulatan bokongnya, menyisip di tepian celana dalam. Sesekali aku memijat dan meremas bokongnya, bukan mencari kesempatan tetapi memang salah satu teknik pemijatan. Aku sempatkan melihat reaksi bude. Ternyata seprai yang ada di dekat tangannya diremas sedikit saat aku memijat dan meremas bokongnya. Aku berpikir wajar saja karena sejak ditinggal suaminya bude belum pernah disentuh dalam bentuk apapun.

Isengku kumat. Jempol kiri dan kanan sesekali aku usapkan di belahan pantat bude. Dan pantat bude sedikit terjingkat. “Hmm..salah satu titik erotisnya bude itu..Bah wes..diseneni opo gak tak coba’e luwih nakal. Nek pancen bude gak opo-opo berarti bengi iki aku kelonan.. (biarin aja..dimarah atau nggak aku coba aja yang lebih nakal. Kalo sampe bude nggak apa-apa berarti malam ini aku bisa tidur bersama)”, sesungging senyum setan terlihat di wajahku. “Sebentar ya bude..”, lalu aku turun dari tempat tidur. Bude tidak menjawab, mungkin sudah benar-benar tidur. Aku lepas celana pendek model karet dan kuturunkan celana dalamku, aku letakkan di samping tasku. Lalu kupakai kembali celana pendekku. Posisiku sekarang di atas bokongnya, kurapatkan dua pahanya. Aku turunkan retsluiting belakang daster bude. Aku pijat dan urut punggungnya. Tanpa meminta persetujuan bude aku tarik kait behanya..tess. Kemudian lotion kutuang lalu kuusap dan urut punggungnya. Aku jalankan dua telapak tanganku hingga ke sisi kiri dan kanan tubuh bude. Dua tiga kali sengaja aku sentuh sisi payudara kanan dan kiri. Remasan tangan bude di seprai makin mengencang. Aku gulung daster bude hingga ke punggung. Kemudian penutup pundak aku lepas satu persatu. Kondisi bude sudah 90% telanjang. Tanganku yang mengurut bokongnya serta menyentuh belahannya makin kuintesifkan. Bude pun makin sering meninggikan bokongnya.

Entah bude mendengar atau tidak, aku melepas kaos dan celana pendek. Dua pahaku aku lumuri dengan body lotion. Lalu aku tempatkan penis ditengah-tengah bokong bude yang masih tertutup. Aku memaju mundurkan tubuh bawahku dengan lancar. Sudah saatnya beraksi, entah bagaimana nanti reaksi bude. “Ohh..hmm..”, terdengar lirih erangan bude. Cengkeraman tangannya di seprai makin mengencang. Penisku sudah ngaceng sempurna. Sesekali aku remas keras bokongnya. Kuturunkan kepalaku lalu berbisik,”bude suka..?kalo nggak aku berhenti sekarang”, sambil masih kugerak-gerakkan pinggangku. Tidak ada jawaban. Sedetik kemudian aku turunkan celana dalam bude. Ketika akan sampai di bawah bokong tanpa kuminta bude mengangkat sendiri. Kutepuk pelan bokongnya ketika telah terbebas. Kembali aku berbisik,”angkat sedikit pinggangnya bude..”. Bude tak bersuara, kepalanya ditenggelamkan di bantal.pinggang bude naik 20cm’an lalu kutahan agar tidak naik lagi. Jembutnya ternyata tidak lebat dan dipotong rapi. Aku renggangkan sedikit pahanya. Bau kewanitaan terhembus di sana. Lidahku menyusuri pelan garis tengah tempeknya. “Ojo masss..isin aku..kotor pisann.. (jangan masss..malu aku..itu tempat kotor jugaa..)”, bude mulai mendesis dengan mengangkat wajahnya dari bantal. Aku jelas tidak menjawabnya. Dua pahanya aku pegang erat. Jilatanku makin cepat. “Mass Iwwwaaannn..ouhhh..nakal kowweee.. (Mass Iwwwannnnn..ouhh..nakal kammmuuu..)”. Kubuka belahan tempeknya ( vaginanya) dan kujilat-jilat. Desiran pendingin ruangan tak mampu mengusir hawa tubuh kami yang mulai menghangat. Tempek bude mulai berasa lebih asin ketika telunjuk kananku mulai ikut meramaikan. Kumasukkan cepat pelan cepat pelan. Dua tiga kali garis anusnya aku usap-usap. “Ahhrrgg..mmmaaasss..”. Lalu kucucup, kuputar-putar lidahku. Pinggang bude aku turunkan. Penisku aku tempatkan di belahan bokongnya. Kugerakkan maju mundur dengan cepat sambil dua tanganku menyusup ke balik dasternya, meremasi dua susu bude. Bude makin menenggelamkan kepalanya di bantal,”oouuffsssttt..ennaakkk mmaasss”. Suara bude tetap terdengar karena tidak ada suara lainnya selain dengus nafas kami serta berkecipaknya pantat bude dan pahaku. Aku hentakkan tubuhku dengan memancarkan spermaku di pinggang hingga punggung bude. Aku tahan suaraku,”aaahhh..ssstttt..”. Lima kali penisku memuncratkan air kenikmatan.

Tarikan nafas kami naik turun dengan tergesa. Kuremas gemas bokong bude. “Aah..genit kowe mass.. (ahh..genit kamu mass..)”. “Salahe bude nggarai kontolku ngaceng..hihi (salahnya bude yang menyebabkan kontolku ngaceng..hii)”. “Lha piye mas..wes suwi aku gak tau didemek uwong lanang (lha gimana lagi mas..sudah lama aku nggak pernah disentuh orang laki). Wes ngono kaet ngomong masalah iku aku mulai terangsang. Tempekku mulai teles..hehe (sudah gitu sejak membahas masalah itu aku mulai terangsang. Vaginaku mulai basah..hehe)”. “Lhaa..bude yo luwih genit tho nek wes ngene..hihi (lhaa..ternyata bude lebih genit kalo sedang kayak sekarang..hihi)”. “Aahh..”, kemanjaan seorang wanita terdengar. “Dastermu tak copot yo bude.. (dastermu aku lepas ya bude..)”. “Heeh mas..copot ae.. (iya mas..lepas aja..)”. Kutarik daster dari atas kepala lalu kuusapkan mengelap spermaku. Kemudian kulepas beha bude. “Dastermu kebes bude..hihi (dastermu basah bude..hihi)”. “Endi..wih iyo..akehe mas pejumu.. (mana coba..eh iya..banyak gini mas air manimu..)”. “Suwi gak tak tokno bude.. (lama nggak aku keluarin bude..)” “Oo..pantes..”. Kurebahkan tubuhku dipunggungnya. Kuusap-usap rambutnya,”matur nuwun yo bude..cup (makasih ya bude..cup)”, kukecup pipi kirinya. Tangan kanan bude mengelus kepalaku,” aku sing terima kasih mas. Lagi iki ngrasakno ngawang maneh (aku yang terima kasih mas. Baru ini aku rasakan lagi badanku melayang)”. Bahasa tubuh bude seperti akan menggeliat. Aku lalu merebahkan diri di kanannya. Bude berbalik badan menghadapku lalu memegang dua pipiku lalu mencium bibirku mesra. Tangan kanannya berjalan ke bawah. “Jik lumayan ngaceng ngene mas..aku pengen mbok leboni mas. Ayo mas..terserah ape sampe isuk aku yo gelem, (masih lumayan ngaceng gini mas..aku ingin kamu masuki mas. Ayo mas..terserah mau sampe pagi aku pasti mau)” sambil mengelus dan mengurut penisku. Kupandang bude Yayuk lalu kugigit bibir bawahnya. Bude membalasnya. “Sabar bude sayang..pasti tak lebokno kontolku ngkok (sabar bude sayang..pasti aku masukkan kontolku nanti). Aku yo pengen ngrasakno dikempit tempikmu.. (aku juga pingin merasakan dijepit vaginamu..),” sambil kuelus-elus klitorisnya. “Emm..mmaass..ayyooo..”, manjanya bude keluar lagi. Kurasakan tempeknya mulai baasah lagi. Mungkin begini rasa seorang wanita yang lama tidak disentuh, cepat naik birahinya.

Sengaja aku tidak langsung menuruti kemauan bude. Ingin kulihat sekuat apa bude bisa menahan birahinya. Aku peluk bude lebih erat. Paha kanan bude menimpa pinggang kiriku. Tempek (vagina) bude yang telah basah terasa di batang kontolku saat bude menggesek-gesekannya. “Ayoo mass..aahhsss..” Susu kanan bude aku remas-remas pelan. Pentilnya yang mulai mengeras kugetar-getarkan kiri dan kanan. Kukecup kecil bibirnya. Tak kusangka tangan kanannya mendekap erat kepalaku lalu bibirku dilumat habis. Bibirku dicium, digigit. Aku mengimbanginya dengan memasukkan lidahku dan kugesek-gesekkan di langit-langit mulut bude, lalu kusedot sekuatku udara didalamnya. “Hhmmppfff..,” suara nafas bude seperti orang dibekap. Ya..dibekap bibir penuh nafsu. Mata bude membesar memberi isyarat kekagetannya dan nafas yg hampir habis. Kuulangi lagi dua kali.

Tangan kanan bude menyusuri punggung lalu meremas gemas bokongku. Tangan kiriku mendekap paha kanannya. Kutekan dan kugerakkan maju mundur pada kontolku agar tempek bude lebih merapat. Leherku disusuri lidah bude, sesekali digigit kecil. “Mass...uuhhh..,” bude berbisik di kuping kiriku. Kuserang bude lebih dalam. Tangan kiriku meremas sebentar bokong kanannya lalu jari tengahnya menyusuri garis tengah bokongnya hingga menyentuh anus bude. “Aauucchh mmmaaasss..geellliii..,” bude berbisik mendesah di kuping kiriku lalu menggigit kecil. Kuputar-putar jari tengah kananku di garis tengah bokongnya serta di lubang anus. Bokongku diremas kuat dan didesakkan pada tempek bude,”uuuhhhh…mmmaaasss..metu manehhh aaakkkuuu… (keluar lagi aku)”. Kucium kuat bibir bude dan dibalas dengan cara sama. Kemudian aku dipeluk rapat-rapat. “Kowe kok pinter ngene sih mas..gak ngiro aku..penak tenan.. (kamu kok pinter gini sih mas..nggak ngira aku..benar-benar enak),” punggungku dielus-elus bude. “Hehe..kan kudu ngono bude.. (kan memang harusnya gitu bude)”. “Hmm..iyo..bejane awakku.. (hmm..iya..beruntungnya aku..)”, lalu bude menciumku dalam. Kuelus-elus rambut bude hingga sejenak kemudian kudengar dengkur halusnya.

Kupandang meja rias berkaca yang tepat diseberang kanan bude. Benar-benar tak kusangka malam ini seranjang dengan wanita setengah baya yang haus akan sentuhan lelaki. Kontolku kembali ke normal besarnya. Kubiarkan bude tidur dulu sambil memikirkan next actionku akan seperti apa. Sudah kutemukan. Kuping kanan bude aku mainkan pelan-pelan lalu kugigit. Belum ada reaksi dari bude. Bibirnya aku cium sedikit-sedikit. Aku tarik bibir bawahnya dengan bibirku lalu kugigit. Lidahku menyusup. “Eemm..” Tubuh bude mulai menggeliat tapi masih terpejam matanya. Lidah bude aku hisap sekali kecil sekali kuat. Mata bude mulai terbuka sedikit dan tersenyum. Tangan kanan bude menyusuri punggung dan bokongku. Kontolku membesar dengan cepat. Kembali jari tengah kananku bermain seperti tadi. Bude menggerak-gerakkan pinggangnya, menyentuhkan tempeknya ke kontolku.

Paha kanan bude aku naikkan hingga melewati pinggang kiriku. Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba aku masukkan kontol yang telah membesar sempurna. “Iki tak lebokno kontolku budeee.. (nih sekarang aku masukkan kontolku bude)”. Mata bude membesar lalu terpejam seakan meresapi sungguh-sungguh,”ooohhh..eemmmfff…). Kepalanya sempat terdongak. Leher bude lalu aku jilati dan kugigit kecil-kecil. Tangan kanan bude mendekap erat kepalaku. Kemudian aku gerakkan pelan-pelan kontolku. Dinding tempek bude masih cukup menjepit. Bokong bude aku remas-remas. Kecepatan kontol kutambah dengan dua kali sentakan dalam. “Adduuuhhh maassss..ennaakkkeee.. (enak sekali)” “Hhh..hh..iyo bude. Tempekmu jik nyengkerem pisannn.. (iya bude. Vaginamu masih mencengkeram juga)”. Kemudian bude semakin memiringkan tubuhnya, sedetik kemudian ia menaiki tubuhku tanpa melepas kontolku. Diciumi seluruh wajahku. Bude lalu menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan rebah di tubuhku. Seluruh kontolku terbenam. Lalu bude beranjak bangun. Pinggangnya tetap maju mundur. Suatu pemandangan yang termasuk kusukai. Seorang perempuan di atas tubuhku dengan membungkus kontolku di dalam tempeknya, lalu maju mundur.

Bude mendongakkan kepalanya,”aahhh…sssshhhh..”. Kuremas sedikit kuat dua susunya dan pentil-pentilnya kumainkan. Bude lalu mengangkat sedikit bokongnya. Rupanya ia ingin naik turun. Bunyi benturan pahaku dan bokongnya serta basah tempeknya makin terdengar. Punggung bude aku elus-elus. “Ooohh..ooohh..ohhh..”, desah nafsu bude terdengar. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tangan kiriku menggapai kepalanya lalu kucium kuat bibirnya. Bude semakin naik turun dengan cepat. Seluruh bidang tubuhnya aku elus. Bude menatapku,”maassss…”. Tanpa aku bertanya tentu sudah tahu maksudnya. Bokong bude aku pegang erat dan kubantu naik turun. Bude bicara lirih,”aayyooo mmaaasss…tokno barengannn..ooouuuhh.. (keluarin sama-sama)”. Kontolku yang memang sudah sekitar 5 menit ini semakin mengencang tentu akan aku turuti. Kucium lembut bude,”iyo budeee..aku yo ape metu iikkiii.. (iya bude..aku memang mau keluar ini)”. Setelah empat kali bude menghentakkan tempeknya ke kontolku, yang kelima,”uuufffsss…mmmaasss..akkkuu mmettuuu.. (aku keluar)”. Dua tarikan nafas kemudian,”bbuuddeee..aakkuuu muunnccrraaattt (aku keluar)”. Desiran air kenikmatan bude mengaliri batangku, disertai jepitan yang cukup kuat. Tiga kali aku memuntahkan sperma. Tempek bude masih terasa berkedut-kedut. Bude merebahkan tubuhnya. Kupeluk tubuh bude. Pipi kananku dielus-elus,”makasih ya mas..kontolmu enak tenan.. (kontolkmu enak sekali)” “Aku yo matur nuwun bude..uenak iso kelonan ngene (aku juga terima kasih bude..enak sekali bisa tidur bersama gini)”. Bude lalu kugulingkan ke sisi kiriku. Kami berpelukan hingga tertidur.

Mataku terbuka sebentar saat kurasakan ada gerakan disampingku. Kulihat bude bangun dan seperti akan ke kamar mandi. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. Bude menuju kaca rias dulu, mungkin meneliti adakah bekas cupangku di lehernya. Dari kaca rias bude menatapku dan tersenyum. Aku bangun dan menghampirinya. “Nggak aku cupang kok bude..nanti orang-orang tau bisa bahaya,” sambil kupeluk dari belakang. Tangan kanan bude menggapai kepalaku lalu mengelusnya. “Aku tau mas..kita harus jaga itu”. Dua tanganku kembali nakal. Menyusuri perut, dada, bokong bude. Ia menggeliat manja. Kuremas-remas susu bude. Kontolku tanpa kuminta langsung ngaceng. Aku gesek-gesekkan di tempek bude. “Ssshh..aahhh..kamu memang nakkaalll mmasss…”. Kupegang kontolku dengan tangan kanan lalu dengan hentakan lembut kumasukkan ke tempek bude. “Oouufff..kamu pingin lagiii mmasss?” “Kalo bude nggak pingin ya aku keluarin sekarang..” “Aahh..ojo mmasss..nyikso aku kowweee.. (jangan mas..kamu menyiksa aku)”. Kugerakkan cepat pinggangku. Beradunya pahaku dan bokong bude memenuhi kesepian kamar. Dua tangan bude memegang erat meja rias. Sesekali menatapku dengan bibir sedikit terbuka. Tiba-tiba aku hentikan dan pergi ke kamar mandi. “Lho mas..kok mandeg..malah ngalih.. (kok berhenti..malah menyingkir)”, bude bingung sekaligus kecewa. Aku sengaja menggodanya biar makin penasaran.

Aku berhenti di depan bak air setinggi perut. Bude menghampiriku,”kenopo mas kok mandeg? (kenapa mas kok berhenti)” Aku tak menjawabnya. Kupandang bude lalu tertawa dengan menahan agar orang lain tidak curiga,”hihi..sorry bude tak gudo.. (maaf bude aku goda)”. Bude spontan cemberut lalu dua tangannya akan memukulku. Kutangkap lalu kupeluk dan cium bibirnya. Bude lalu meremas-remas rambutku,”jahil kamu masss…”. Kami berciuman panas menjelang subuh di kamar mandi. Sebentar kemudian kubalik badan bude dan kuposisikan menghadap bak mandi. Bude sejenak menoleh menatapku dengan sendu. Cepat kumasukkan kembali kontolku. “Aahhh..,” desah kami hampir bersamaan. Aku gerakkan pinggangku dalam-dalam dan sesekali cepat. Bude menggengam erat pinggir bak mandi. harapanputra.com

Kulihat sabun cair di sisi kiriku. Aku tuang sedikit dan kucampur dengan air, lalu aku usapkan di dua susu bude. Bude sedikit bergidik karena air bak yang dingin menjelang pagi itu. “Maaasss..,” bude mendesah manja. Dua tanganku makin leluasa menyusuri susu, perut dan tempek bude karena licin. Pentil-pentil bude terasa lebih mengencang. Bokong bude sekarang aku sabuni. Klitoris bude aku elus-elus dengan cepat. Kepala bude menunduk ke bak mandi dan tubuhnya agak doyong ke depan. Aku tegakkan kembali tubuh bude. “Buddeee..aayyooo metttuuu (ayo keluar),” bisikku di kuping kirinya. “Aayyyoo mmaasss..aaassshhhh..”. Kugerakkan makin cepat pinggangku. Dua tanganku menangkupi susu bude dan meremas-remasnya. Cengkeraman tangan bude di bak mandi makin kuat. “Ahhh..buudddeee..ssshhh..”. Tiga detik kemudian,”mmaass..ssaaayyyaaannggg..oouuhhhfff..”. Tanpa bisa kucegah tubuh bude doyong seperti menimpa pinggir bak mandi karena seakan aku tak punya tenaga lagi. Dua tanganku masih menutupi susu bude Yayuk. Aku lalu memeluk perut bude dan mencium bibirnya dari samping kiri. Bude berbalik dan menciumiku mesra lalu memelukku. Tubuh kami basah oleh air dan sabun sepagi itu. Kami saling membersihkan sabun yang masih menempel dengan air tapi diusahakan tidak menimbulkan suara, agar orang rumah tidak curiga. Bude menggandengku menuju tempat tidur. Kami berpelukan bagai sepasang kekasih dalam satu ranjang.

Bersambung :
* kalau mau baca sambungan dari cerita ini klik share (facebook, google +, blogger dll) dulu maka link sambungan akan muncul. selamat menikmat
Selengkapnya → Bude Yayuk [Kisah Nyata]

Awal Liarnya Istriku

2016 No comments:
“Lihat nih, bini aku sexy kan?” kataku bangga. Rendy melotot dan berdecak kagum, “Ck..ck…sexy sekali ya?”
“Yuli (nama istri Rendy) pernah direkam gini?” tanyaku tetap dengan nada bangga.
“Belum,” Rendy menggeleng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sekalian direkam diam-diam.”
“Sip! Nanti lihatin ke aku ya,” kataku bersemangat, “sekalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil direkam juga.”
“Terus besok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin ke aku, punya aku lihatin ke kamu,” usul Rendy yang langsung kusetujui.
Malamnya, aku benar-benar ML dengan Reny, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku merekamnya di hpku yang sudah kuatur letaknya sebelum mengajaknya ML.
Besoknya, aku dan sahabatku menepati janji. Kuserahkan hpku untuk ditonton oleh Rendy, sementara aku menikmati hasil rekaman sahabatku itu. Kami sama-sama terangsang oleh tontonan yang sangat pribadi sifatnya itu. Bahkan Rendy sempat terlongong setelah mengembalikan hpku, seperti ada yang dipikirkan olehnya.
“Jan…kalau kita swinger gimana? Jujur, aku belum pernah merasakan swinger,” kata Rendy tiba-tiba.
Aku terkejut. Tak pernah kupikir sebelumnya akan melakukan seperti yang Rendy usulkan itu.
“Kamu jangan tersinggung, Jan,” Rendy menepuk bahuku, “Ini cuma usul…kalau kamu nggak keberatan, aku juga gak maksa. Yang jelas, kamu bisa nyobain Yuli, aku nyobain Reny. Adil kan?”
Aku terbengong-bengong. Terus terang, usul Rendy mengejutkan sekaligus membuatku bergairah. Kubayangkan istriku sedang disetubuhi oleh sahabatku itu, sementara aku menyetubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja penisku sudah ngacung, apalagi kalau benar-benar dilaksanakan. Maka setelah berpikir agak lama, kujawab, “Usul edan tapi menggiurkan. Cuman…gimana cara meyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. Istrimu sendiri gimana?”
“Soal istriku, serahkan padaku. Kamu urus Reny saja, atur supaya mau,” kata Rendy.
“Reny sangat konservatif, kamu juga tahu itu kan?”
“Reny yang konservatif apa kamu sendiri yang tidak mau swinger?” Rendy menepuk bahuku sambil menertawakanku.
“Aku mau…mau…tapi bagaimana cara meyakinkan Reny ya?”
“Begini aja,” kata Rendy di tengah kebingunganku, “kita jebak mereka ke dalam situasi yang mau tidak mau harus mereka terima.”
“Maksudmu?”
“Aku kan punya villa keluarga di Cipanas. Kita ajak mereka week end di sana.”
“Yayaya…jebakannya di sebelah mananya?”
“Kita bawa Martini atau Tequila…minum rame2, kita pada minum di sana. Setelah mereka rada kleyengan, kita matiin lampu sampai gelap sekali. Saat itu aku akan menelanjangi istriku, kamu juga telanjangi istrimu. Lalu kita bikin foreplay dengan istri kita masing-masing. Nah…lalu diem-diem kita tukar tempat. Kamu terkam istriku, aku terkam istrimu. Deal?”
“Hahahaaa! Deal! Deal!” seruku gembira dengan usul sahabatku, meski sebenarnya ada tandatanya di hatiku : Benarkah mentalku sudah siap untuk membiarkan istriku disetubuhi orang lain? Tapi…bukankah aku juga akan menggauli istri Rendy? Bukankah ini sangat adil bagi kami?
Lalu kami tentukan harinya. Hari yang akan sangat bersejarah itu.Setelah aku berpisah dengan Rendy, aku pulang dengan 1001 khayalan di benakku. Membayangkan istriku yang manis dan bertubuh mulus itu akan digeluti oleh Rendy, sementara aku akan menggeluti Yuli, istri Rendy. Aneh, baru membayangkannya saja aku jadi sangat terangsang. Apalagi pada waktu mengalaminya nanti.Reny sudah 4 tahun jadi istriku. Pada saat kisah ini terjadi Reny sudah berusia 26 tahun, sedangkan aku sendiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai seorang putra yang baru berumur 2 tahun. Ibu mertuaku sangat sayang pada Bernard, nama anakku, jauh melebihi ketelatenan babysitter yang bekerja di rumahku sejak anakku berusia setahun. Karena itu tiada masalah kalau aku dan Reny bepergian, karena di rumahku ada babysitter dan ibu mertuaku.Maka dengan wajah cerah Reny menyetujui ajakanku untuk berakhir pekan di Cipanas. “Rendy punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”Iya,” aku mengangguk, “villa punya orang tuanya.””Rendy dan Yuli juga ikut nanti?””Ya iyalah. Kalau mereka gak ikut, ya gak enak dong kita pake villa orang tanpa pemiliknya. Kecuali kalau kita sewa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang telah ditentukan, Rendy dan Yuli menyampar ke rumahku dengan Honda Citynya. Aku pun secepatnya memanaskan mesin Toyota Viosku.Tak lama kemudian, aku sudah menggerakkan mobilku, bersama Reny di sisiku, mengikuti mobil Rendy dan Yuli. Seperti yang sudah diatur semula, aku membekal Tequila, yang katanya bisa membuat wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Rendy setelah berada di villa nanti.Reny tidak tahu bahwa ketika aku menyetir mobil menuju Cipanas, jantungku berdegup-degup terus, karena membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam lagi. Membayangkan sesuatu yang belum pernah kualami dan akan menimbulkan kesan mendalam dalam kehidupan dan hasrat birahiku.Sesampainya di depan villa, jantungku makin berdebar-debar. Tapi aku mencoba menekannya dengan menyapukan pandangan ke sekitar villa, yang memang indah pemandangannya. Diam-diam kuperhatikan Rendy. Ternyata sama denganku, senyumnya tampak canggung. Lalu kami masuk ke dalam villa.Reny dan Yuli bersih-bersih dulu di dalam villa, aku dan Rendy keluar lagi, lalu berjalan-jalan agak menjauh dari villa. Dan ngobrol dengan suara setengah berbisik:
“Kamu nafsu gak liat Yuli?” tanyanya.
“Kamu sendiri gimana? Nafsu gak liat Reny?” aku balik bertanya.
“Ya iyalah, makanya aku yang usul pertama, karena tergiur sekali waktu melihat dia bugil di hpmu itu.”
“Sama,” kataku sambil tersenyum canggung, “aku juga jadi nafsu melihat bentuk istrimu yang seksi…”
Darahku tersirap mendengar pujian itu. Tapi terasa makin membuatku penasaran, ingin segera tau apa yang akan terjadi nanti.
Kami berunding diam-diam, tentang apa yang akan kami lakukan nanti. Setelah matang rencananya, kami kembali ke villa. Di dalam villa, sudut pandangku mencuri-curi pandang terus ke arah Yuli, yang nanti akan kugauli. Kurasa Yuli dan Reny punya keistimewaaan masing-masing. Kulit Reny kuning mirip kulit wanita Jepang, sementara Yuli berkulit baubusuk. Reny tergolong berwajah cantik, sementara Yuli bisa kunilai hitam manis. Tubuh Yuli sedikit lebih tinggi daripada Reny, kutaksir sekitar 170cm gitu, sementara Reny 168cm.
Yang menarik dari hasil curi-curi pandang ini adalah, toket Yuli itu…aku yakin besar sekali…mungkin behanya berukuran 38 ke atas. Sedangkan toket Reny biasa-biasa saja, behanya pun cuma 34.
Menjelang senja, kami makan malam dulu di restoran yang paling dekat dengan villa keluarga Rendy. Pada saat itulah kulihat Reny dan Yuli seakan bersaing dalam berpakaian. Mereka seolah ingin tampil seseksi mungkin. Padahal aku tak menganjurkan apa-apa kepada istriku. Dan kulihat mata Rendy sering memperhatikan istriku. Sialan…sebentar lagi dia akan menikmati kemulusan dan kepadatan tubuh istriku. Tapi pikiran ini justru diam-diam membuat penisku hidup, mengeras dan mengeras terus. Terlebih-lebih setelah membayangkan bahwa untuk pertama kalinya aku akan menikmati kesintalan tubuh Yuli yang hitam manis itu.
Selesai makan, hari mulai malam. Kami pun kembali ke villa.
Seperti yang telah direncanakan, kami minum tequila di sofa ruang depan. Cukup banyak kami membekal minuman itu, karena aku membeli dua botol, ternyata Rendy pun membekal tiga botol. Untungnya Reny dan Yuli tidak menolak waktu ditawari minum, dengan alasan untuk mengusir hawa dingin.
Baru menghabiskan dua sloki, wajah Reny mulai merah. Sikapnya padaku mulai romantis. Yuli pun sama, ia mulai memeluk pinggang Rendy dengan sorot mata berharap.
Lalu kata Rendy, “Kita bikin pesta di dalam kamar yuk…sama-sama main…come on honey,” Rendy meraih lengan istrinya sambil melirik padaku, “ayo Jan…kamarnya cuma satu, kita pake rame2 yok.”
Kuraih juga lengan Reny yang tampak mulai agak teler. Lalu kami ikuti langkah Rendy ke dalam kamar yang agak besar, dengan dua bed berdampingan. Sesampainya di kamar, Rendy langsung menerkam dan menghimpit istrinya. Adegan itu tidak bisa lama-lama kulihat, karena setelah aku dan istriku naik ke atas bed yang masih kosong, Rendy memijat knop sakelar yang letaknya tak jauh dari bantalnya. Kamar itu langsung gelap gulita. Dan terdengar suara Rendy, “Biar kita sama-sama asyik dengan istri kita masing-masing, Jan.”
Aku cuma menjawab dengan ketawa kecil. Tapi dalam gelap aku mulai menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat, lalu membisiki telinga istriku, “Ayo dong buka pakaianmu semua.”
Reny tidak buang-buang waktu. Ia tahu persis apa yang kuinginkan dalam saat-saat seperti itu. Dalam kegelapan kamar villa, Reny mulai menelanjangi dirinya. Sementara kudengar desah napas Yuli yang mulai tersengal-sengal, entah apa yang sudah terjadi di bed yang satu lagi itu. Mungkin Rendy sedang menjilati puting payudara atau vagina istrinya, entahlah…yang jelas aku pun mulai menggumuli istriku dalam kegelapan.
Terdengar suara Yuli, “Oooh…Bang Rendy…oooh….iya Bang…begituin….oooh…masukin aja Bang…aku gak tahan lagi nih…ooohhh…”
Terangsang oleh suara istri sahabatku itu, aku pun mulai menjilati puting payudara Reny. Tapi tak lama kemudian terasa tanganku dipegang oleh tangan kasar. Tangan Rendy. Aku mengerti maksudnya, bahwa aku harus segera pindah ke bed yang satunya lagi, sementara Rendy akan pindah ke bedku.
Inilah saat-saat yang paling mendebarkan. Aku bergerak ke arah bed di sebelah, lalu mulai menjamah tubuh Yuli. Mudah-mudahan saja Yuli tidak sadar bahwa sekarang bukan lagi suaminya yang akan menikmati kesintalan tubuhnya. Mudah-mudahan pula Reny tidak menyadari bahwa posisiku sudah diganti oleh Rendy.
Wow, aku mulai menikmati hangatnya pelukan Yuli. Tampaknya dia belum sadar bahwa posisi suaminya sudah diganti olehku.”Masukin aja Bang, sudah gak tahan nih…horny banget,” bisik Yuli yang sudah berada di bawah himpitanku. Bicara begitu, terasa tangan Yuli mulai memegang batang kemaluanku yang memang sudah keras. Apakah mau main langsung-langsungan saja? Kurasa untuk yang pertama kalinya memang harus begitu. Jangan banyak variasi dulu. Nanti kalau Yuli dan Reny sudah menyadari hal ini, barulah pakai foreplay sebanyak mungkin.
Maka tanpa banyak pikir-pikir lagi, kubiarkan Yuli meletakkan ujung penisku di ambang vaginanya. Kemudian kudorong sedikit demi sedikit, persis pada saat kudengar suara Reny, “Mas…cepetan dong masukin…duuuhh…kenapa jadi horny gini? Gara-gara minuman tadi kali ya…naaahhh…..iiih…kok punya Mas terasa jadi agak gede? Diapain?”
Gila…itu berarti penis Rendy sudah dimasukin ke dalam liang kemaluan istriku! Tapi…bukankah penisku juga sudah mulai melesak ke dalam liang senggama Yuli?
Bukan cuma melesak, tapi sudah mulai kuayun dengan mantapnya, karena liang senggama Yuli sudah banyak lendirnya (mungkin “hasil” rangsangan Rendy tadi).
Penisku sudah maju mundur dalam jepitan liang surgawi Yuli yang terasa begini legitnya, mungkin karena dia belum melahirkan anak. Liang vaginanya terasa sangat mencengkram dan hangat. Desah nafasnya pun makin nyata diiringi rintihan-rintihan nikmatnya, “Ooohh Bang…oooh…bang…oooh…kok enak sekali ini bang…..oooh…” sementara kedua lengannya mendekap pinggangku kuat-kuat. Ini membuatku makin bernafsu.
Lalu…seperti yang sudah direncanakan, diam-diam Rendy memijat sakelar lampu dan….tiba-tiba kamar itu jadi terang benderang. Ini sesuai dengan kesepakatan aku dan Rendy. Bahwa dalam keadaan sudah “telanjur” (penisku sudah main di dalam liang vagina Yuli dan penis Rendy sudah maju mundur di dalam liang vagina istriku), baik Yuli mau pun istriku takkan bisa menghindar lagi dari kenyataan yang sudah direncanakan oleh Rendy denganku itu.
Setelah kamar villa terang benderang, tentu saja Yuli dan istriku terkejut setelah menyadari dengan siapa mereka sedang bersetubuh.
“Bang Rendy?!” seru istriku di bed sebelah.
“Mas Janus?!” seru Yuli yang sedang kusetubuhi dengan gencarnya.
Lalu terdengar Rendy tertawa, “Hahahaaa….kita lanjutkan saja…sudah telanjur kan?”
“Jadi semuanya ini sudah direncanakan?” tanya Yuli yang tampak berusaha mengendalikan kekagetannya.
“Iya…ini adil kan?” bisikku sambil meremas buah dadanya yang benar-benar montok itu.
“Aaahhh…” cuma itu yang terlontar dari mulut Yuli, kemudian dia mendekap lagi pinggangku dan mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan yang trampil, seperti membentuk angka 8.
Kulirik Reny seperti bingung. Ia menoleh padaku, seakan bertanya kenapa jadi seperti ini? Lalu kutanggapi dengan senyum…dan celotehku, “Enjoy saja….”
Mungkin Reny geram melihatku sedang bersetubuh dengan Yuli, lalu ia “balas dendam” dengan mencengkram bahu Rendy dan mulai menggoyang pinggulnya. Gila…cemburu juga aku dibuatnya. Seingatku, tak pernah Reny menggoyang pinggulnya seedan itu waktu kusetubuhi. Tapi kecemburuanku ini berbuah nafsu dan gairah yang luar biasa. Enjotan penisku di dalam liang surgawi Yuli terasa nikmat luar biasa! Maka semakin edan pula kuhentak-hentak penisku, seperti meronta-ronta dalam jepitan memiaw Yuli…oh…ini nikmat sekali!
Suasana menjadi semakin erotis dan misterius. Yuli meladeni enjotan penisku dengan energik, pinggulnya meliuk-liuk laksana penari India. Tapi aku tak tahu apa yang bersemayam di benaknya. Ketika aku melirik ke samping, goyang pinggul Reny pun tak kalah edannya. Seolah ingin bersaing dengan dinamisnya goyang pinggul Yuli. Ada perasaan geram dan cemburu di hatiku melihat ulah istriku seperti itu. Tapi bukankah aku sendiri sedang menikmati kehangatan tubuh istri sahabatku?
Di tengah persenggamaan yang seru ini aku sempat berbisik terengah di telinga Yuli, “Gimana? Enak?”
“Enak sekali….aaah….” sahut Yuli dalam bisikan juga, mungkin takut terdengar oleh suaminya.
“Nanti lepasin di dalam apa di luar?” bisikku lagi.
“Terserah, aku kan belum punya anak…siapa tahu bisa punya darimu,” bisik Yuli pelan sekali, pasti takkan terdengar oleh suaminya yang semakin asyik menyetubuhi istriku.
Bisikan Yuli itu membuatku semakin bergairah mengayun batang kemaluanku. Tapi sekaligus membuatku tak bisa bertahan lagi, “Aku sudah mau keluar”, bisikku.
“Tahan dulu,” sahut Yuli, “aku juga sudah mau keluar Mas…barengin keluarnya ya…biar enak…”
Lalu kami seperti dua ekor binatang buas, saling cengkram, saling remas, saling jambak…dan akhirnya tak tertahankan lagi, bersemburanlah air mani dari batang kemaluanku, disambut dengan kedutan-kedutan liang kemaluan Yuli di puncak orgasmenya.
Kami menggelepar…menggeliat…berkejut-kejut…lalu sama-sama terkulai di puncak kepuasan.
Tapi kulihat Rendy masih asyik mengenjot batang kemaluannya di dalam liang kemaluan istriku. Bahkan di satu saat, mereka mengubah posisi. Reny di atas, Rendy di bawah. Oh…ini benar-benar membuatku cemburu. Karena kulihat istriku yang aktif mengayun pinggulnya, sementara Rendy merem melek sambil terlentang…
Kucabut batang kemaluanku dari dalam vagina Yuli yang sudah basah kuyup oleh spermaku dan lendir Yuli sendiri. Lalu aku duduk bersila sambil menonton persetubuhan Rendy dengan istriku. Aku terlongong menyaksikan betapa aktifnya Reny saat itu. Dengan sedikit berjongkok, ia mengayun pinggulnya sedemikian rupa, sehingga liang kemaluannya seolah membesot-besot batang kemaluan Rendy.
Yuli pun menonton persetubuhan antara suaminya dengan istriku itu. Dan tampaknya Yuli seperti kepanasan. Diam-diam ia menggenggam batang kemaluanku yang sudah mulai membesar, karena terangsang menyaksikan istriku sedang gila-gilanya bersetubuh dengan sahabatku. Tiba-tiba Yuli mendekatkan wajahnya ke pahaku yang sedang bersila ini, ah…tangannya memegang batang kemaluanku sambil menjilatinya. Sungguh semuanya ini mendebarkan dadaku…terlebih setelah Yuli menghisap-hisap penisku, di depan mata suaminya yang sedang menyetubuhi istriku!
Hanya dalam tmpo singkat penisku sudah mengeras kembali. Dengan sigap Yuli mendorong dadaku agar terlentang, lalu dengan berjongkok ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang surgawinya. Mungkin ia iri melihat suaminya sedang dipuasi oleh istriku dalam posisi terbalik begitu, lalu ia ingin melakukan hal yang sama. Blesss….penisku mulai membenam ke dalam liang memiaw Yuli…
Yuli mulai memainkan pinggulnya dengan energik sekali, naik turun dan bergoyang meliuk-liuk…ooh…penisku terasa dibesot-besot dan diremas-remas. Bukan main nikmatnya, membuat nafasku tertahan-tahan sambil mulai meremas-remas payudara montok yang bergelantungan di atas dadaku…dan di bed yang satu lagi, kulihat istriku lebih energik lagi, mengenjot pinggulnya sambil berciuman dengan Rendy. Ih…aku cemburu…tapi kecemburuanku ini jstru membangkitkan rangsangan dahsyat di jiwaku.
Sulit menggambarkan keadaan yang sebenarnya saat itu, karena aku juga sudah dipengaruhi alkohol, dari tequila yang kami minum tadi. Yang jelas, sepulangnya dari villa itu, Reny terus-terusan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang-sedang saja, karena ingin sambil berbincang dengan istriku.
“Bagaimana kesanmu, Lin?” tanyaku di satu saat.
“Gak tau ah…” Reny menggeleng, tapi kulihat ada senyum di bibirnya.
“Suka kan? Bilang aja terus terang. Semuanya ini kan demi kenikmatan kita bersama.”
“Mas sendiri, suka kan bisa menggauli Yuli?”
“Hmm…terus terang, aku lebih suka melihatmu sedang digauli oleh Rendy. Ada perasaan cemburu, tapi cemburu itulah yang membuatku jadi sangat terangsang.”
Reny terdiam. Lalu kataku, “Makanya satu saat nanti bisa aja kita undang Rendy tanpa istrinya.Atau bisa juga orang lain…biar aku bisa melihatmu digauli lelaki lain yang akan menimbulkan rangsangan hebat bagiku.”
Reny menatapku dengan ekspresi aneh. Lalu tanyanya, “Emang Mas gak tersiksa kalau aku digauli orang? Buatku, semuanya ini aneh…”
“Memang aneh,” sahutku sambil tersenyum, “tapi kamu suka kan?”
Dia tak menjawab. Matanya lurus memandang ke depan.
“Bilang aja terus terang, kamu suka kan? Seharusnya semua itu jadi pengalaman fantastis buat kita. Bener kan?”
“Iya sih…tapi aku takut akibatnya di kemudian hari…”
“Misalnya?”
“Ya…misalnya Rendy…sudah telanjur merasakan tubuhku. Bagaimana kalau nanti ketagihan?”
“Kasih aja. Asal di depan mataku, jangan sembunyi-sembunyi.”
Reny menatapku dengan sorot aneh, “Mas gak sakit hati melihatku digauli sama Rendy?”
“Gak,” aku menggeleng, “kan semuanya yang sudah terjadi tadi sudah kurundingkan dengan Rendy beberapa hari yang lalu.”
“Jadi semuanya itu benar-benar sudah direncanakan sama Bang Rendy?”
“Ya. Memang tadinya usul itu datang dari dia. Dan aku sangat tertarik pada usulnya itu. Bukan karena tertarik pada Yuli, tapi justru ingin menyaksikan kamu di gauli orang lain. Kebetulan aku tahu persis siapa Rendy. Dia bersih, tak pernah jajan dan sebagainya.”
“Terus…nantinya kita akan begitu lagi, maksudku…ngajak Rendy dan Yuli lagi?”
“Semuanya kuserahkan padamu. Karena dalam hal ini kamulah yang harus memutuskan. Dan gak usah di villa itu saja. Bisa juga kita pilih hotel di dalam kota. Dan gak usah di hari libur saja. Kapan saja kita mau, ya kita lakukan.”
“Ntar kalau aku ketagihan gimana?” tanya Reny malu-malu.
Rupanya kejadian di villa itu membuatnya terkesan dan ada kemungkinan ketagihan. Ini mendebarkan. Seandainya dia benar-benar ketagihan, apakah mentalku sudah siap? Ah, sudah kepalangan basah, aku mau jalan terus…karena aku merasakan beberapa hal positif di balik langkah “baru” ini!
Di hari-hari berikutnya, aneh…tiap kali aku membayangkan kejadian di villa itu, membayangkan istriku sedang disetubuhi oleh Rendy, nafsuku mendadak bangkit. Lalu kuajak istriku bersetubuh. Anehnya lagi, tiap kali aku bersetubuh dengan istriku, aku jadi powerfull dan energik sekali.
Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?”
“Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Rendy, hasratku bangkit dengan hebatnya.”
“Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yuli?”
“Nggak,” aku menggeleng, “sungguh. Untuk membuktikannya, nanti kita ajak Rendy saja, tanpa kehadiran Yuli. Biar kamu percaya, titik syurnya justru waktu menyaksikan kamu digauli Rendy.”
“Nggak ah. Nggak enak sama Yuli dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.”
“Aku gak butuh Yuli, aku butuh Rendy.”
Reny menatapku dengan sorot penuh selidik. Lalu tertunduk, seperti sedang berpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang selain Rendy, kamu mau?”
Reny menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.”
“Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku.
“Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung.
“Bener.”
“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Roy gimana?”
Aku terkejut. Dia memilih adik kandungku!
Tapi apa salahnya?
“Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku.
“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.”
Aku setuju. Roy adalah satu-satunya adik kandungku. Dia masih tergolong abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru semester pertama. Usianya memang jauh beda denganku. Saat istriku mengajukan namanya, usia Roy baru 18 tahun.
“Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Roy.
Reny cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu.
“Hallo, Mas?” terdengar suara Roy di hpku.
“Gimana sehat Roy?”
“Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?”
“Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.”
“Siap Boss!”
Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss.
“Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku.
“Secepat itu?” istriku tercengang.
“Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.”
“Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Roy begituan?”
“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Roy gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.”
“Terus?”
“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Roy…!”
“Ah…Mas ada aja akalnya….”
Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor.
Tidak sampai sejam, semuanya beres. Kameranya kusembunyikan di dalam lemari, lalu ada lubang kecil yang langsung mengarah ke tempat tidur. Soundnya kupasang terpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk memantaunya aku pakai headphone di gudang.
Ketika bunyi motor Roy terdengar memasuki pekarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, menghadapi monitor. Lalu terdengar suara istriku menyambutnya. Pada saat yang sama, hpku yang disilent berkedip-kedip. Ada sms masuk. Aku agak kaget, karena sms itu datang dari Yuli, bunyinya: Mas Janus…aku kok jadi kangen gini sih? Kapan kita ketemuan tanpa mereka? Aku pengin nyantai Mas. Kebetulan Bang Rendy besok mau ke Medan. Mas datang ya ke rumahku besok malam. Jangan takut sama Bang Rendy. Aku sudah dapat izin kapan saja ketemu sama Mas Janus boleh. Izinnya cuma dengan Mas Janus, dengan orang lain tidak boleh.
Aku tersenyum sendiri membaca sms itu, lalu kubalas dengan sedikit gombal : Aku juga kangen sama Yuli…tapi besok aku harus lihat-lihat dulu apakah besok ada kegiatan atau tidak. Aku siap kok….waktu di villa terasa sekali Yuli itu…hmmm…pokoknya nikmat sekali…!
Yuli membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Rendy di Medan, Mas harus datang ke rumahku.
Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang!
Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Roy masih ngobrol dengan istriku di ruang depan.
Tak lama kemudian kulihat di monitor sudah ada “kehidupan”. Roy masuk ke dalam kamarku bersama istriku. Cepat kupasangkan headphone di telingaku. Dan terdengar suara mereka:
“Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Roy. Makanya enak di kamar mandi yang ini.”
“Iya Mbak. Ohya, Mas Janus kapan pulangnya?”
“Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.”
“Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.”
“Iya. Perlu ditemenin nggak?”
Roy tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Reny…ada-ada saja.”
“Lho…aku nggak main-main kok…”
“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Janus.”
“Nggak lah….nyante aja lagi…”
Roy tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku.
Pada saat yang sama, datang lagi sms dari Yuli: Bang Rendy sudah berangkat Mas. Ke rumahku dong sekarang…lagi horny…pengen sama Mas Janus…abisnya terkesan sih sama Mas…
Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Rendy? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu?
Yuli memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Reny dan adikku. Maka kubalas sms Yuli: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana?
Yuli membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e
Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.
Sejenak kulupakan dulu Yuli yang setengah memaksaku datang ke rumahnya, karena kulihat di monitor Roy sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, sementara Reny sedang duduk di depan meja rias.
Lalu:
“Roy…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Reny sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya.
“Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…”
“Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!”
“Iya, iya Mbak,” sahut Roy sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Roy.
Memang benar dugaanku…waktu Roy menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Roy sambil menatapnya: “Roy…”
“Ya Mbak…?” Roy tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku.
“Kamu pernah begituan sama cewek?”
“Ma…maksud Mbak?”
“Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Roy, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak? Hihihihi…panjang gede penismu Roy…Mas Janus kalah sama kamu…sudah keras lagi…”
“Mbak…ohhh…mbak….” Roy tampak gelagapan.
Reny bangkit dari kursi di depan meja rias. Lalu melangkah ke pintu, menutup dan sekaligus menguncinya. Lalu balik lagi menghampiri Roy yang berdiri kebingungan, masih dengan handuk melilit di badannya.
Reny melingkarkan lengannya di leher Roy. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?”
“Pernah…” sahut Roy hampir tak terdengar.
Reny tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Roy…kamu mau kan? Mumpung Mas Janus gak ada…”
Reny mengakhiri ajakannya dengan menarik handuk yang melilit di pinggang Roy. Ini membuat Roy langsung telanjang bulat. Dan kulihat batang kemaluannya sudah ngaceng dengan mantapnya. Aku iri juga melihat batang kemaluan Roy, yang ternyata lebih panjang dan lebih besar daripada punyaku. Baru sekali ini aku melihat bentuk batang kemaluan adikku setelah usianya hampir dewasa begitu.
“Mbak…” Roy tampak kebingungan, karena Reny sudah memegang zakarnya sambil mendorong dadanya sehingga terlentang di atas tempat tidurku.
Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku!
“Iiih…punyamu kok panjang dan gede gini, Roy…sudah keras sekali lagi…Mas Janus kalah nih sama punya kamu…” Reny mulai menciumi penis adikku, membuatku semakin degdegan. Terlebih ketika ia mulai melepas beha dan celana dalamnya, yang membuat Roy melotot. Aku juga melotot tegang. Penisku sudah ereksi sejak tadi, serasa mau ngecrot saja. Tapi kucoba menenangkan diri dengan menyalakan rokok dan mengikuti adegan selanjutnya.
Setelah telanjang bulat, istriku menelentang di sisi Roy sambil bergumam, suaranya tidak begitu jelas. Roy mengangguk, lalu bergerak menindih dada istriku.
Kusangka Roy mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Roy…lalu kepala Roy menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok. Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Roy semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Roy…sekarang… masukin aja Roy…masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi besar itu….”
Tapi Roy seperti keasyikan, terus2an menjilati kemaluan istriku. Sampai istriku merintih lagi, “Roy…aaaah…aku mau orga nih…Troooyyy…..aaaahhhh….”
Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Troooy….ooohhh…aku keluar, sayaaang….”
Roy terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut memiaw istriku. Jelas sekali, penis Roy mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Roy, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri.
“Oooh…Roy….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Roy.
Gila, aku tak tahan melihat semuanya itu. Dan pada waktu kulihat Roy mulai mengayun batang kemaluannya, kuperiksa komputer yang sedang merekam adegan dari cctv, semuanya berjalan dengan baik. Lalu diam-diam aku keluar…
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam taksi (sengaja aku tidak memakai mobilku sendiri, keluar dari rumah pun diam-diam, supaya Roy tidak menyadari kehadiranku).
Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumah Rendy.
Yuli menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”
“Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.”
Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yuli membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yuli. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yuli tanpa kehadiran Rendy. Dan tampaknya Yuli pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya.
Aku sudah terangsang oleh adegan Roy dengan adikku tadi. Maka ketika Yuli menguncikan pintu depan, aku memeluknya dari belakang, “Mana pembantumu?”
“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.”
“Jadi sekarang Yuli cuma sendirian?”
“Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yuli yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat.
Tentu aku tak mau berdiam pasif…ketika dia meraihku ke sofa, tanganku mulai menyeRenyp ke belahan kimononya, langsung menyentuh payudara montoknya yang sejak tadi kuyakini tidak mengenakan beha, karena kedua putingnya tampak menonjol meski masih tertutup kimono. Terasa menghangat tubuh Yuli setelah aku berhasil memegang payudaranya…meremasnya dengan lembut…
Tak cuma itu…tanganku yg satu lagi mulai menyeRenyp ke balik celana dalam Yuli, mulai menyentuh jembutnya yang lebat…mulai menyeRenyp ke celah surgawinya yang mulai membasah dan hangat. Napas Yuli mulai tertahan-tahan.
Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Roy, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yuli sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yuli mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju.
Di dalam kamarnya, Yuli menanggalkan kimononya dengan senyum mengundang. Sehingga tinggal celana dalam yang melekat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam keadaan seerotis itu, dia meraih kedua pergelangan tanganku, dengan senyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan celana jeans dan shirtku, lalu merapat ke tubuh Yuli dalam keadaan sama-sama tinggal bercelana dalam saja…
Hawa hangat tersiar dari tubuh Yuli ketika aku mulai menggumulinya. Sempat juga kudengar bisikannya, “Makasih Mas…Mas datang tepat pada saat aku butuh Mas…”
Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar….
Ketika tanganku mulai menyeRenyp lagi ke balik CD Yuli, aku pun membiarkan tangan Yuli menyeRenyp ke balik Cdku. Dan ketika tanganku mulai mengelus kemaluan Yuli, aku pun rasakan Yuli mulai menggenggam dan meremas batang kemaluanku dengan hangat dan lembut.
“Sudah keras banget Mas,” bisiknya.
“Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Roy, adikku yang masih sangat muda itu…
Lalu tanpa basa basi lagi kutempelkan moncong tongkolku di mulut memiaw Yuli yang sudah membasah itu…secara reflex Yuli merenggangkan kedua kakinya…dan kudorong batang kemaluanku sampai masuk sedikit…terdengar desisan mulut Yuli sambil melotot…kukocok2 sedikit zakarku, sampai akhirnya membenam sekujurnya di dalam liang surgawi Yuli….
Pagi itu aku tidak masuk kerja, karena kantorku sedang direnovasi, jadi aku bisa istirahat seminggu. Reny sedang mengantarkan anakku yang sudah dimasukkan ke playgroup. Tanganku tertusuk ujung obeng waktu ngotak ngatik sound system di mobilku tadi, lalu kucari-cari betadine di sana sini, tidak ketemu. Di mana ya? Perasaan Masih ada betadine di kamarku ini. Lalu kucari di meja rias istriku. Kutarik juga lacinya, karena biasanya Reny menaruh benda-benda kecil di situ. Tapi pandanganku malah tertumbuk ke sebuah buku tebal. Buku apa ini?
Ternyata buku itu penuh dengan tulisan istriku. Semacam buku harian. Iseng-iseng kubaca. Isinya mendebarkan. Rupanya setiap kejadian penting dicatatnya di buku ini. Dan yang paling mendebarkan adalah rangkaian kalimat berikut ini:
—————————————————————————————— ———————–
AKU mencintai Mas Janus dengan sepenuh hati. Tapi mengapa semuanya ini harus terjadi? Bisakah aku disalahkan, sedangkan semua yang telah kualami adalah “hasil karya” suamiku sendiri?
Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi luar biasa.
Aku masih ingat benar waktu terjadinya petualangan di villa Rendy itu, aku kaget sekali setelah menyadari bahwa yang sedang menyetubuhiku adalah Rendy, bukan suamiku. Aku juga kaget ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yuli. Oh my God! Apa yang sedang terjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa semuanya itu direncanakan oleh mereka, oleh Rendy dan suamiku. Sedangkan batang kemaluan Rendy sudah telanjur berada di dalam liang kemaluanku, aku sudah telanjur merasakan nikmatnya ent*tan Rendy yang memang lebih panjang dan lebih besar daripada punya suamiku. Akhirnya aku memejamkan mata dan mulai menikmatinya dengan perasaan melayang-layang.
Tetapi kreativitas sex Mas Janus tak berhenti sebatas itu saja. Pada suatu hari dia mengungkapkan rencana baru, yaitu niatnya untuk menjebak orang lain untuk menggauliku dan ia sendiri akan mengintipnya. Menurutnya hal itu akan membangkitkan nafsunya yang luar biasa. Lalu kuusulkan orang lain itu Roy, adik Mas Janus sendiri. Ternyata usulku disetujui, meski dengan sedikit sindiran bahwa aku seneng brondong.
Rencana itu jelas mendebarkan. Meski buat orang lain mungkin merupakan hal yang aneh dan tak masuk di akal. Tapi aku sendiri merasakan hal yang sama, ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yuli, perasaanku dibakar cemburu, tapi lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan meladeni Rendy seedan mungkin. Dan rasanya luar biasa. Belum pernah kurasakan hubungan sex senikmat itu.
Lalu terjadilah sesuatu yang merupakan wujud dari rencana suamiku sendiri. Bahwa Roy masuk ke dalam perangkapku.
Apakah Roy lebih dominan memberikan kepuasan padaku? Tentu saja. Dia Masih bujangan. Zakarnya terasa keras sekali waktu membenam ke dalam liang kemaluanku. Dan gesekan-gesekannya terasa begitu mantap…lebih mantap daripada suamiku.
Tapi apakah dengan peristiwa-peristiwa edan itu cintaku pada Mas Janus mulai pudar? Tidak! Aku malah semakin mencintainya, karena dia telah menciptakan sesuatu yang membuat kepuasan luar biasa padaku.
Malam itu Roy sampai tiga kali ejakulasi, karena baru sebentar istirahat dari ejakulasi pertama, zakarnya kembali menegang. Dan persetubuhan yang ketiga kalinya adalah hasil rangsanganku, membuat dia bersemangat menyetubuhiku untuk ketiga kalinya.
Aku tahu bahwa semua yang kulakukan dengan Roy disorot oleh kamera cctv dan dimonitor oleh suamiku. Dan semuanya itu memang kehendak suamiku sendiri. Tapi setelah Roy keluar dari kamarku, setelah aku selesai membersihkan vegyku di kamar mandi, Mas Janus tak muncul juga. Lebih dari sejam aku menunggu, dia tak muncul-muncul. Apakah dia ketiduran di kamar monitoring itu?
Aku jadi serba salah. Mau mengetuk pintu gudang, takut dia lagi asyik melakukan sesuatu. Yah, akhirnya aku rebahan dengan tubuh lemas, karena tenagaku seperti dikuras waktu meladeni Roy tadi.
Menjelang subuh, ketika aku sudah tidur nyenyak, terdengar pintu kamar dibuka, suamiku masuk.
Karena masih terkuasai alam tidur, aku bertanya lemah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?”
Suamiku mencium pipiku sambil berbisik, “Jangan marah ya…tadi aku ke rumah Rendy.”
“Terus?” tanyaku sambil menggesek mataku.
“Janji dulu, kamu gak marah ya.”
“Iya janji. Ngapain ke rumah Rendy?”
“Mmm…Yuli ngajak…karena Rendy lagi ke Medan…”
“Pantesan…” cetusku sambil mencubit lengan suamiku, “Asyik dong…”
Suamiku cuma nyengir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Roy tadi…”
“Jadi Mas gak nonton aku sama Roy tadi?”
“Nonton sebentar, terus pergi diam-diam. Tapi semuanya kan direkam. Nanti bisa kutonton rekamannya.”
“Ih…nanti kalau Rendy juga ngajak aku diam-diam gimana?”
“Mau balas dendam? Hahaha…gakpapa. Yang penting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yuli.”
“Ih…kita kok jadi begini Mas?”
“Kamu nyesel? Jangan nyesel dong, tenang aja lagi.”
Subuh itu suamiku tidak melakukan apa-apa padaku. Mungkin dia sudah kecapean menyetubuhi Yuli. Tapi aku sendiri juga masih lemas karena habis melayani adik iparku yang masih sangat tangguh itu.
SETELAH suamiku berangkat kerja, seperti biasa aku mandi di bawah semburan shower air hangat. Rasanya ingin membersihkan tubuh sebersih mungkin. Entah kenapa. Selesai mandi aku berias dulu di depan cermin rias, kemudiankeluar dari kamarku dengan hanya mengenakan kimono.
Kulihat pintu kamar tamu masih tertutup. Kamar itu dipakai oleh Roy. Sudah sesiang ini dia belum bangun? Kucoba memutar handle pintu kamar itu, ternyata tidak dikunci. Diam-diam aku masuk ke dalam. Sambil menutupkan kembali pintu dari dalam, kulihat Roy masih nyenyak tidur tanpa selimut. Dia hanya mengenakan celana dalam dan kaus t-shirt sambil memeluk bantal guling. Selimut tergeletak di sampingnya. Apakah dia tidak kedinginan?
Dengan hati-hati aku merayap ke sisinya. Aneh, hasrat birahiku berkobar lagi. Padahal tadi malam aku sudah dipuasi oleh adik iparku ini. Lalu kalau pagi ini terjadi lagi seperti yang tadi malam, apakah Mas Janus takkan marah? Ah, bukankah suamiku mengizinkanku untuk melakukannya, asalkan nanti laporan padanya?!
Entahlah kenapa aku jadi begini bergairah, begini binalnya untuk mendapatkan kepuasan seksual di pagi ini. Tapi Roy masih tidur pulas, sampai tidak menyadari bahwa tanganku sudah menyeRenyp ke dalam CDnya, sudah menggenggam batang kemaluannya yang masih sangat lemas. Dan kuremas-remas dengan lembut sesuatu yang tadi malam sangat memuaskanku itu. Aku mulai gemas, kusembulkan zakar Roy dari celah CDnya, lalu tanpa ragu lagi kudekatkan wajahku ke zakar yang masih terkulai lesu itu. Gap…mulai kukulum dan kumainkan ujung lidahku untuk mengelus puncak batang kemaluan Roy.
Dengan penuh semangat kuselomoti batang kemaluan Roy yang perlahan-lahan mulai membesar dan memanjang….terdengar suara nafas Roy, pertanda mulai bangun…batang kemaluannya pun mulai bangun, mengeras dengan gagahnya!
Lalu terdengar suara Roy mendesah, “Oo…oooh…mbak…oooh…ini enak sekali….oooh….”
Tanpa pikir panjang lagi kulepaskan kimonoku, langsung telanjang bulat karena tak mengenakan pakaian dalam…hmm..semuanya sudah dipersiapkan! Lalu kutarik CD Roy, sehingga zakarnya yang sudah berdiri dengan gagah itu tak tertutup apa-apa lagi. Kemudian kudorong dadanya supaya terlentang. Lalu aku merangkak ke atas tubuhnya sambil mengarahkan batang kemaluannya supaya ngepas menekan liang kemaluanku yang sudah membasah dengan lendir libido ini.
Lalu kuturunkan pinggulku, sehingga perlahan tapi pasti zakar Roy membenam ke dalam liang veggyku. Oh, gila, rasanya aku horny banget pagi ini.
Aku menelungkup setelah menanggalkan t-shirt Roy. Lalu mulai aktif, menaik turunkan
pinggulku dengan goyangan yang sudah terlatih. Dengan sendirinya batang kemaluan Roy dibesot-besot oleh dinding liang kenikmatanku.
Roy terengah-engah sambil memeluk pinggangku erat-erat. Membuatku makin bersemangat untuk menggenjot pinggulku, oh, rasanya enak sekali pergeseran antara dinding liang kenikmatanku dengan batang penis Roy yang gagah perkasa itu.
SAMPAI Roy meninggalkan rumahku, rahasia itu tetap kujaga. Roy tidak kuberitahu bahwa semuanya itu “hasil karya” abangnya sendiri. Aku tetap ingin menjaga image suamiku dan aku sendiri, agar jangan dicap pasangan psikopat. Memang semuanya seolah hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami-istri yang psikopat. Tapi aku sudah mulai menikmatinya, sudah mulai memahami jalan pikiran suamiku, bahwa semuanya ini mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, sekaligus menghilangkan kejenuhan.
Hari demi hari berlalu. Apa yang kucemaskan tidak terjadi. Aku dan Mas Janus enjoy-enjoy saja menempuh rumah tangga, tanpa badai yang berarti. Bahkan anehnya sikap Mas Janus makin ramah dan lembut padaku. Jadi tiada alasan bagiku untuk mempertentangkan pendiriannya. Bahkan dengan jujur harus kuakui bahwa aku enjoy dengan semuanya ini. Dan setuju dengan kata-katanya, “Daripada selingkuh di belakang, mending selingkuh terang-terangan begini. Yang penting semuanya harus under control. Jangan jadi liar.”
Memang semua yang telah terjadi dengan Roy kulaporkan kepada suamiku, sebagai tanda masih under control. Dan suamiku malah tersenyum, tiada ekspresi kemarahan sedikit pun. Bahkan semakin hangat dia memperlakukanku sebagai istri syah dan ibu dari anaknya.
Lalu semuanya berjalan seperti biasa. Tanpa gejolak yang berarti dalam rumah tanggaku. Sampai pada suatu malam…ketika aku pulang arisan ibu-ibu di lingkunganku, kulihat Mas Janus tersenyum-senyum sambil memelukku. Dan berbisik ke telingaku, “Aku lagi bergairah sekali sekarang ini sayang.”
Biasanya kalau mau bersetubuh dengan Mas Janus, aku suka ke kamar mandi dulu untuk membersihkan kemaluanku. Tapi malam itu Mas Janus tak memberiku kesempatan. Langsung menelanjangiku di dalam kamar dan menerkamku di atas tempat tidur.
Aneh memang, ketika batang kemaluan Mas Janus membenam ke dalam liang ku, aku merasakan gairahnya begitu hebat. Terlebih setelah batang kemaluannya mulai mengenjot liang veggyku, oh, kenapa Mas Janus jadi ganas begini? Apakah dia habis makan obat perangsang atau bagaimana?
Aku pun mulai menikmatinya dengan sepenuh gairah kewanitaanku. Kugoyang pantatku dengan gerakan meliuk-liuk, membuat nafas Mas Janus semakin mendengus-dengus. Aku pun terpejam-pejam dalam arus kenikmatan.
Tetapi…ada yang aneh…ya…ini aneh. Bahwa ketika Mas Janus sedang mengenjotku sambil menelungkup di atas tubuhku, terasa ada yang mengelus-elus betis dan pahaku.
Aku mencoba memperhatikannya dengan seksama. Apa yang sedang terjadi ini?
Dan alangkah kagetnya aku, setelah menyadari bahwa ternyata memang ada tangan lain yang sedang mengelus pahaku. Tangan itu adalah tangan Bang Rendy! Ya, Bang Rendy sudah berada di atas tempat tidurku dalam keadaan tak berbusana! Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah ini semuanya sudah mereka atur sebelumnya?
“Ba..Bang Be…Rendy?!” seruku tertahan.
Rendy cuma tersenyum dan tetap mengelus-elus pahaku. Bahkan lalu ia memegang bahu suamiku sambil berkata dengan senyum, “You istirahat dulu dong…biar aku yang menggantikanmu…”
Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, terlebih ketika kulihat suamiku malah mengangguk sambil tersenyum dan menarik batang kemaluannya sampai terlepas dari liang kemaluanku. Dan Rendy merayap ke atas tubuhku sambil mengarahkan batang kemaluannya ke mulut ku.
Kupegang pergelangan tangan suamiku yang duduk di sebelahku sambil menatapnya, “Mas…”
“Santai aja sayang,” sahut suamiku sambil mengelus pipiku, “Enjoy aja.”
Belakangan aku tahu bahwa ketika aku sedang arisan, Rendy datang dan sengaja disembunyikan di kamar mandi yang bersatu dengan kamarku. Ah…semuanya memang sudah direncanakan.
Perasaanku jadi bercampur aduk ketika lubang ku mulai dicoblos oleh batang kemaluan Rendy. Salah tingkah, karena suamiku menyaksikan semuanya ini. Maka sambil menggenggam tangan suamiku erat-erat, kupejamkan mataku…sambil merasakan nikmatnya zakar Rendy yang mulai maju-mundur di dalam jepitan liang kewanitaanku.
Orang bilang rumput di pekarangan tetangga selalu tampak lebih hijau daripada di pekarangan sendiri. Kini aku merasakannya. Bahwa ayunasn Rendy terasa sekali membanjiri bathinku dengan kenikmatan. Karena Rendy tak hanya menggenjot nya di dalam ku, tapi juga mengulum-ngulum puting payudaraku, sesekali mengisapnya kuat-kuat. Sementara tangannya pun tidak diam. Terkadang mengelus anusku, menimbulkan geli-geli nikmat yang membuatku sering menahan nafas. Aku pun mulai merengkuh leher Rendy dan memeluknya erat-erat, tanpa berani memandang ke arah suamiku.
Ketika kubuka mataku, kulihat suamiku sedang melangkah ke kamar mandi, mungkin mau pipis. Saat itulah aku merasa bebas untuk menggoyang pinggulku seedan mungkin, karena enjotan Rendy emang terasa sekali enaknya. Dan ketika ia mencium bibirku, sengaja kupagut dan kulumat bibirnya dengan penuh gairah. Biarlah, bukan aku yang merencanakan semuanya ini.
Kelihatannya kelincahanku dalam meliuk-liukkan pinggul justru membuat suamiku senang. Ia malah berkomentar setelah keluar lagi dari kamar mandi, “Nah begitu dong, jangan bikin malu aku….biar Rendy tau istriku ini jago goyang…hihihihi…”
Aku masih belum mengerti kenapa suamiku bisa seperti itu. Yang jelas, kulihat dia enjoy-enjoy aja melihatku sedang disetubuhi oleh sahabatnya, enjoy-enjoy saja melihat pinggulku bergoyang-goyang edan.
Rendy pun sama enjoynya. Tanpa peduli kehadiran suamiku, Rendy terkadang mendesakkan batang kemaluannya dalam sekali, sampai menyentuh ujung liang ku. Ini membuatku merengek nikmat, dengan mata merem melek.
Ketika aku mau merasakan titik puncak orgasmeku, tak terkendalikan lagi aku merintih-rintih histeris, “Ooohhh…Bang Rendy….oooh…aku mau orga Bang….ooooh….”
Tanpa peduli lagi bahwa suamiku sedang menyaksikan semuanya ini.
Susah melukiskan semuanya itu, karena aku sendiri dalam keadaan edan-eling di puncak orgasme. Yang aku ingat, Rendy melanjutkan enjotan nya meski ku sudah becek. Dan pada suatu saat ia menekankan batang kemaluannya kuat-kuat sambil mendengus, ooooooo…oohhhh…..lalu terasa liang kemaluanku disemprot-semprot cairan hangat, pada saat yang sama Rendy mendekapku kuat-kuat, lalu perlahan-lahan terasa batang kemaluannya melemas dan mengecil.
Aku pun memejamkan mata dalam letih dan puas. Tapi beberapa detik kemudian suamiku menggantikan peran Rendy, memasukkan lagi zakarnya yang Masih keras ke dalam liang kemaluanku yang sudah kebanjiran air mani Rendy. Aku tak kuasa menolak ataupun memberikan saran. Aku hanya terdiam, lalu berusaha memuaskan nafsu suamiku dengan goyangan pinggul sebisa mungkin. Padahal sekujur tubuhku masih terasa ngilu-ngilu.
Malam itu memang malam edan. Setelah suamiku ejakulasi, Rendy maju lagi. Dia minta agar aku mengubah posisiku jadi di atas. Lalu terjadilah persetubuhan yang kedua dengan sahabat suamiku itu.
Tentu saja ronde kedua ini (kedua untuk Rendy, ketiga untukku) jauh lebih lama daripada ronde pertama tadi. Aku sendiri sudah tak tahu lagi berapa kali mengalami orgasme saat itu. Yang aku tahu, setelah lebih dari sejam kami bersetubuh, Rendy mencabut nya dari ku, kemudian menyemburkan sperma hangatnya di dalam mulutku.
Setelah Rendy terkapar, aku bergegas menuju kamar mandi, untuk berkumur-kumur dan membersihkan kemaluanku. Lalu kembali ke kamar, tadinya ingin beristirahat. Tapi rupanya persetubuhanku yang kedua dengan Rendy tadi menyebabkan libido suamiku berkobar lagi!
Terpaksalah kuladeni lagi suamiku, karena merasa kasihan kalau nafsunya tidak kupuasi. Tapi, oh my God….selesai suamiku menyetubuhiku, Rendy ingin meku lagi untuk yang ketiga kalinya!
Mungkin di situlah letak keistimewaan main threesome seperti yang pernah diungkapkan oleh suamiku. Aku sudah membuktikannya. Suamiku biasanya hanya menyetubuhiku 2 atau 3 hari sekali. Tapi malam itu, ia mampu menyetubuhiku 3 kali! Berati aku mengalami hubungan sex 6 kali di malam edan itu!
ESOKNYA, sepulang dari kantornya, suamiku menghampiriku yang sedang rebahan di kamar. “Bagaimana kesannya tadi malam, sayang?”
“Lemes….tubuhku serasa dilolosi….” sahutku sambil tersenyum canggung.
Suamiku memelukku dan berbisik, “Tapi kamu puas kan?”
“Lebih dari puas,” sahutku sambil mencubit lengan suamiku, “Mas sendiri sampai bisa tiga kali ya.”
Suamiku mengangguk, “Itulah kelebihan threesome.”
“Emang Mas gak cemburu waktu Rendy sedang menyetubuhiku?” tanyaku dengan pandangan penuh selidik.
“Tentu aja cemburu,” sahut suamiku dengan senyum, “Tapi di balik rasa cemburu, nafsuku jadi berkobar dengan hebatnya ketika melihatmu sedang disetubuhi oleh Rendy. Padahal belakangan ini aku tak pernah lagi menidurimu lebih dari sekali dalam semalam kan? Tapi tadi malam….”
“…Sampai tiga kali!” tukasku.
Suamiku mengangguk sambil tersenyum menggoda.
“Tapi…pada satu saat, mungkin Rendy akan ngajak Mas untuk mengeroyok Yuli juga kan?”
Suamiku tercenung sesaat. Lalu katanya, “Mungkin saja. Tapi aku pasti minta izin dulu padamu. Gakpapa kan?”
Meski berat terpaksa kujawab, “Gakpapa…biar adil….tapi Mas…ada masalah lain yang selama ini jadi pikiranku…”
“Soal apa?”
“Si Roy itu…bagaimana kalau dia ketagihan?”
“Ajak aja ke sini. Biar aku bisa nonton diam-diam.”
“Dia gak mau Mas. Takut sama Mas. Kan aku belum bilang kalau semua yang telah terjadi itu keinginan Mas sendiri.”
“Memang sebaiknya jangan bilang dulu. Nanti disangkanya aku sudah gila. Padahal aku cuma ingin kreatif aja.”
“Jujur aja, tadi pagi dia nelepon. Dia bilang ketagihan….”
“Tentu aja ketagihan. Cowok mana yang tidak ketagihan setelah merasakan enaknya mu. Hehehe….”
“Mm…kalau…kalau…ah gak deh…”
“Lho, ngomong kok gak diterusin?!”
“Takut Mas marah.”
“Gak. Aku janji gak marah. Ada apa?”
“Kalau dia ngajak ketemuan di satu tempat gimana? Kabulkan jangan?”
“Dia kost di luar kota, dekat kampusnya. Di rumah kost itu banyak orang. Gak mungkin bisa ketemuan di sana.”
“Kalau…kalau…kalau di hotel?”
“Boleh aja. Yang penting kamu harus laporan sama aku nanti.”
“Bener nih Mas?”
“Bener,” suamiku mengangguk, sebaiknya sih di sini. Kan bisa kuatur, misalnya pura-pura aku gak di rumah.”
“Lalu diam-diam Mas ketemuan sama Yuli lagi?”
“Nggak sayang. Intinya bukan itu. Aku merelakanmu digauli orang lain bukan karena ingin selingkuh dengan wanita lain. Yang penting bagiku, bisa menyaksikan waktu kamu digauli orang lain itu. Hal itu akan membuatku cemburu, lalu bangkit nafsuku…seperti tadi malam itu…”
“Yang tadi malam itu swinger juga Mas?”
“Bukan, yang tadi malam namanya threesome MMF. Kalau swinger ya waktu di Puncak itu.”
“MMF? Maksudnya?”
“MMF itu male-male-female. Kalau FFM female-female-male.”
“Berarti bisa juga perempuannya dua orang, lelakinya seorang?”
“Iya. Tapi pada dasarnya fisik wanita lebih siap untuk menghadapi pria lebih dari seorang. Lelaki kan harus ereksi. Kalau menghadapi wanita lebih dari seorang, pasti dia tak bisa memuaskan wanita-wanita itu. Hanya buat gaya-gayaan doang. Kalau wanita kan bisa melayani pria walaupun sambil tidur. Pria tidak bisa begitu. Penisnya harus ereksi dulu sebelum melakukan kontak seksual.”
“Berarti wanita lebih tangguh daripada lelaki dong Mas.”
“Iyalah, aku harus jujur mengakui hal itu.” suamiku mengangguk, “Perempuan kan tinggal telanjang dan telentang, mau diantri sama sepuluh lelaki juga bisa. Tapi lelaki? Kalau sudah ejakulasi ya terkulai, letih lesu…dikasih bidadari juga belum tentu mampu bangkit lagi…hehehe…”
Aku cuma tersenyum mendengar ucapan suamiku itu. Semacam pengakuan lelaki. Bahwa sebenarnya perempuan ditakdirkan lebih tangguh daripada pria secara fisik. Lelaki kalau dikasih 10 orang cewek dalam semalam, pasti takkan ternikmati semua. Tapi wanita? Diantri sama 10 orang lelaki juga bisa. Tapi poliandri tetap merupakan hal yang janggal di dunia ini, sementara poligami banyak terjadi di mana-mana.
“Kapan mau swinger lagi?” tanya suamiku tiba-tiba.
“Sama Rendy dan Yuli?” aku balik bertanya.
“Nggak harus dengan mereka. Masih banyak alternatif.”
“Hah? Gak salah tuh?” aku melotot, “Rencana apa lagi yang sudah tersimpan di hati Mas?”
“Masih kupikirkan,” sahut suamiku datar, “Soalnya kita harus yakin teman swinger kita bersih, jangan sampai menularkan penyakit.”
Aku tidak berani menanggapi. Lalu kata suamiku, “Kalau dengan Rendy dan Yuli terus, kita bisa jenuh juga.”
“Ih…emang Mas punya rencana sama siapa lagi?”
“Sudah ada dua pasang yang mau swinger sama kita. Tapi aku harus memikirkannya dulu.”
“Tapi Mas…apa hubungan kita nanti gak rusak?” tanyaku sangsi.
“Nggak sayang,” Mas Janus memelukku lembut, “Yang penting jangan terlalu sering. Obat juga kalau over dosis bisa berdampak negatif.”
Aku cuma mendengarkan. Da kata Mas Janus lagi, “Sekali kita swinger, kesannya akan melekat dalam waktu tertentu. Bisa sebulan, bisa dua bulan dan seterusnya. Tergantung dari kesan yang kita dapatkan pada waktu swinger itu.”
Aku tetap tak mau menanggapi, takut salah ngomong.
Kata suamiku lagi, “Sebenarnya sekarang ada beberapa perkumpulan swinger, tersebar di kota-kota besar. Tentu saja aktivitas mereka gak terlalu terbuka. Semuanya dilakukan secara rapi. Seolah-olah kumpulan arisan keluarga biasa.”
“Masa sih?” aku tercengang, “terus bagaimana cara aktivitas mereka?”
“Biasanya mereka bergerak tidak terlalu banyak, supaya tidak menraik perhatian. Misalnya satu hari mereka berkumpul di sebuah villa besar di luar kota. Mungkin yang hadir hanya enam atau tujuh pasang. Lalu di villa itu mereka tukar pasangan, bisa dengan cara mengundi atau atas kesepakatan semua pihak.”
“Ih…kalau yang begitu jangan mau Mas. Lama-lama bisa over dosis seperti kata Mas tadi.”
Suamiku hanya tersenyum datar. Entah apa yang sedang berada di alam pikirannya.
Kami sama-sama terdiam, hanyut dalam terawangan masing-masing.
Hari berganti hari tiada peristiwa yang penting, sampai pada suatu hari, terjadilah peristiwa yang tak kuduga sebelumnya. Berawal dari kontak telepon dengan adik iparku:
“HALLO…Lagi ngapain Roy?”
“Lagi nyantai aja. Apa kabar Mbak?”
“Baek. Kamu bener-bener kangen sama aku?”
“Kangen sekali. Gimana ya…mm..aku ketagihan Mbak…tapi takut ketahuan sama Mas Janus.”
“Ah, nggak apa-apa kok. Aku jamin abangmu nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa gimana?”
“Nanti deh aku cerita. Tapi kalau kamu mau dan ingin bebas, kan bisa ketemuan di hotel.”
“Ih, takut Mbak. Sekarang sering ada razia di hotel-hotel. Kalau sampai kena razia bisa heboh nanti. Mmm…kalau Mbak mau, aku ada usul…”
“Apaan tuh?”
“Aku punya temen, Sony namanya. Lengkapnya sih Sonyer, tapi biasa dipanggil Sony aja.”
“Terus?”
“Rumahnya kosong, cuma dia sendiri di rumah itu. Orang tuanya di Amerika.”
“Terus?”
“Ya kita ketemuannya di rumah dia aja. Gimana?”
“Lho, kalau dia tau gimana?”
“Gakpapa Mbak. Orangnya fair kok.”
“Terus?”
“Jujur, aku sudah bilang kapan-kapan mau numpang pake salah satu kamar di rumah dia. Ya tadinya sih kalau Mbak gak keberatan, mau kuajak ketemuan di rumah dia itu Mbak.”
“Kalau dia tau kan malu, sayang.”
“Di dalam kamar tertutup, masa dia tau apa yang kita lakukan?”
Aku tercenung sesaat. Lalu terdengar lagi suara Roy di hpku, “Kita ketemuan aja dulu di sana. Nanti Mbak pertimbangkan di sana. Kalau Mbak gak sreg ya cari alternatif lain.”
“Tapi kamu jangan bilang aku ini istri abangmu. Gak enak.”
“Beres Mbak. Terus kapan kita ketemuan di sana?”
“Terserah kamu. Tapi harus di jam kerja.”
“Mmm…Senin pagi aja ya.”
“Senin lusa? Oke aku setuju. Soalnya tiap hari Senin abangmu suka pulang telat, kadang-kadang sampai malam. Rumah temanmu itu di mana?”
Roy menyebutkan suatu alamat rumah.
Kataku. “Kita langsung ketemuan di sana aja ya Roy. Jangan keliatan bareng perginya.”
“Baik, jam sembilan aku sudah stand by di rumah Sony. Mbak mau pake apa ke sananya?”
“Ya pake taksi aja.”
“Sip deh! Sampai ketemu di sana nanti ya Mbak.”
“Oke. Take care Roy.”
Setelah hubungan telepon terputus aku tercenung. Memang harus kuakui, Roy membuatku kangen terus. Maklum dia masih begitu muda, 19 tahun juga belum. Tentu sangat beda dengan suamiku yang sudah 30 tahun. Aku sudah membayangkan betapa nikmatnya dalam gasakan dan keperkasaan Roy nanti.
Rasanya lama sekali menunggu hari Senin tiba. Dua hari yang kunantikan serasa menunggu dua bulan lamanya. Aku resah sekali rasanya. Tapi kusembunyikan keresahanku ini, jangan sampai diketahui oleh suamiku.
Senin yang dinantikan tiba juga. Jam 7 suamiku sudah berangkat kerja. Setelah bunyi mesin mobilnya hilang dari pendengaran, bergegas aku menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhku sebersih-bersihnya. Tak cukup dengan itu. Selesai mandi kusemprot-semprotkan parfum ke setiap sela yang mungkin tersentuh oleh Roy nanti. Aku ingin menimbulkan kesan seindah mungkin di batin adik iparku itu.
Kukenakan celana jeans dengan t-shirt biru tua yang agak ketat. Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam taksi yang sedang menuju alamat rumah teman Roy yang bernama Sony itu.
Rumah yang kutuju itu beberapa kilometer di luar kota. Aku agak tertegun melihat kemegahan rumah dengan pekarangan yang sangat luas itu. Pasti orang tua Sony bukan orang kebanyakan. Mungkin seorang pejabat tinggi atau pelaku bisnis papan atas. Hal itu membuatku ragu. Tapi begitu taksi berhenti di depan pintu pagar rumah megah itu, Roy datang menjemputku. Dengan sopan ia membukakan pintu taksi waktu aku mau turun.
“Temenmu mana?” tanyaku dengan perasaan tak menentu waktu berjalan menuju pintu depan rumah megah itu.
“Lagi keluar dulu,” sahut Roy sambil menggenggam pergelangan tanganku, “Santai aja Mbak. Di sini aku merasa seperti di rumah sendiri.”
“Kita langsung aja ke kamar yang sudah disediakan di atas yok,” ajak Roy sambil menunjuk ke tangga yang menuju lantai dua. Aku menurut saja, meski terasa sikapku serba canggung.
Di dalam salah satu kamar lantai atas, aku mulai merasa tenang. Terlebih setelah Roy menutupkan pintunya.
Pandanganku tertumbuk ke sebuah foto besar berbingkai silver. Foto seorang anak muda di atas sebuah motor Harley Davidson. Tampan sekali anak muda itu. Aku menduganya seorang artis yang belum kuketahui namanya. Tapi Roy menunjuk foto itu sambil menerangkan, “Itulah Sony. Ganteng ya Mbak.”
Aku cuma mengangguk cuek, padahal hatiku berkata, “Ganteng dan sexy sekali temanmu itu….”
Kamar itu ada kamar mandinya. Maka bisikku, “Aku mau pipis dulu ya.”
Roy mengangguk sambil tersenyum. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi itu. Bukan cuma mau pipis, tapi sekalian ingin mencuci ku sebersih mungkin. Karena aku yakin ku akan dijilati oleh Roy nanti, jangan sampai ada bau yang kurang sedap, meski sudah disemprot parfum di rumah tadi.
Celana jeans dan BH kugantungkan di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan CD dan t-shirt. Rupanya Roy juga sudah melepaskan celana jeansnya, sama seperti aku, tinggal mengenakan t-shirt dan CD.
Senyum Roy tampak menggoda waktu aku menghampirinya. Lalu memelukku dengan hangat. Dan menciumi pipi serta leherku, lalu melumat bibirku dengan hangat dan membangkitkan gairahku.
Supaya Roy lebih leluasa menikmati kemulusan tubuhku, kulepaskan t-shirtku, sehingga payudaraku yang masih terawat kencang ini tak tertutup apa-apa lagi. Roy pun menanggalkan t-shirtnya. Lalu memelukku dengan hangat dan meraihku ke atas tempat tidur. Aku pun mulai menggelinjang nikmat ketika Roy mulai menjilati puting payudaraku. Tak hanya itu, lidahnya mulai menjilati pusar perutku dan turun terus, sampai akhirnya kemaluanku mulai dijilatinya dengan penuh semangat. Aku pun mulai menggeliat-geliat dalam arus kenikmatan, sambil merengek lirih,“Roy…oooh…ini enak sekali sayang…kamu be…belajar dari siapa sih…kok pintar amat kamu main emut begini…?”
“Belajar dari film bokep,” sahut Roy sambil menghentikan jilatannya sesaat, lalu menyedot-nyedot kelentitku membuatku mendesah-desah lagi dalam nikmat.
“Udah Roy…masukin aja….cepet…aku pengen melepas kangenku sama t*t*tmu yang gagah itu…” pintaku sambil menarik bahu Roy agar naik ke atas tubuhku.
Roy mengikuti ajakanku. Ia mulai mengarahkan batang kemaluannya ke mulut ku. Aku pun membantunya, merenggangkan pahaku sambil memegang batang kemaluan Roy dan menekankan puncaknya pas di mulut veggyku. Lalu aku mengedipkan mata, sebagai tanda agar ia mulai mendorong…dan…aaah…batang kemaluan Roy mulai melesak dengan mantapnya ke dalam liang kemaluanku!
Tapi setelah mulai menggeser-geserkan zakarnya maju mundur dalam liang kenikmatanku, ia berkata terengah, “Mbak jangan marah ya…sebenarnya Sony ada di rumah ini. Dia ingin nonton kita Mbak…”
“Apa?” aku kaget, tatapanku tertuju ke foto besar yang terpampang di dinding itu. Foto anak muda yang tampan itu, “terus kalau dia ngiler nanti gimana? Kamu kok ada-ada aja.”
Nada ucapanku seperti protes. Tapi diam-diam aku teringat pada peristiwa main bertiga dengan Rendy. Apakah pagi ini akan terjadi kisah yang mirip itu?
“Dia orang sopan Mbak. Dia hanya ingin nonton. Tapi…kalau dia gak tahan dan ingin ikutan, mainin aja nya sama tangan Mbak…itu juga kalau Mbak gak keberatan. Pokoknya aku jamin tidak akan ada pemaksaan, Mbak.” Roy mulai mengenjot nya dengan gerakan syur, yang membuatku mulai terpejam-pejam.
“Nggak tau ah…” sahutku pura-pura tidak suka. Tapi diam-diam khayalanku mulai melambung…membayangkan sesuatu yang luar biasa indahnya.
“Dia menunggu izin Mbak untuk masuk ke kamar ini. Izinkan jangan?” tanya Roy sambil menghentikan gerakannya sejenak.
“Terserah kamu aja lah,” sahutku dingin. Padahal diam-diam aku ingin melihat apakah Sony itu setampan wajah di foto itu?
Tanpa menghentikan genjotan nya, Roy berseru, “Sony! Come on…!”
Aku rada degdegan juga ketika kudengar pintu dibuka. Soalnya aku dalam keadaan begini, keadaan telanjang bulat dan sedang disetubuhi oleh adik iparku.
Lalu tampak seorang anak muda tinggi semampai dengan wajah, Oh my God…! Tampan sekali cow
Selengkapnya → Awal Liarnya Istriku
Subscribe to: Posts (Atom)

Daftar Isi Blog

Blog Archive

  • ▼  2017 (4)
    • ▼  February (1)
      • Berbagi Tips Menghangatkan Ranjang
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (10)
    • ►  December (10)
  • ►  2014 (23)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  May (13)
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (63)
    • ►  December (1)
    • ►  November (8)
    • ►  October (7)
    • ►  September (47)
  • ►  2012 (72)
    • ►  November (3)
    • ►  August (7)
    • ►  July (7)
    • ►  June (4)
    • ►  May (3)
    • ►  April (20)
    • ►  February (19)
    • ►  January (9)
  • ►  2011 (359)
    • ►  December (15)
    • ►  November (24)
    • ►  October (33)
    • ►  September (51)
    • ►  August (27)
    • ►  July (3)
    • ►  June (29)
    • ►  May (51)
    • ►  April (48)
    • ►  March (38)
    • ►  February (22)
    • ►  January (18)
  • ►  2010 (440)
    • ►  December (98)
    • ►  November (59)
    • ►  October (123)
    • ►  September (33)
    • ►  August (44)
    • ►  July (47)
    • ►  June (29)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)

Entri Populer

  • Bude Yayuk [Kisah Nyata]
    Beliau adalah kakak kandung dari istri kedua pamanku. Selisih umur dengan adiknya sekitar 3 tahun, mendekati 50 tahun. Sehari-hari mengajar...
  • Janda Bahenol Penjual Nasi Kuning
    Bu Sarmin gak kpikiran bakal ngalamin nasib tragis hari itu, dia pikir dgn karakternya yg keras hati bisa naklukin segalanya, termasuk gue. ...
  • Awal Liarnya Istriku
    “Lihat nih, bini aku sexy kan?” kataku bangga. Rendy melotot dan berdecak kagum, “Ck..ck…sexy sekali ya?” “Yuli (nama istri Rendy) pernah d...
  • Tukar Pasangan dengan Kakak Ipar
    Tags: cerita seks, cerita swinger, cerita tukar pasangan, ngentot kakak ipar, sedarah incest, sex adik kakak, sex incest, sex kakak ipar, se...
  • Kesempatan Dalam Kesempitan Dirumah Mertua
    Kira2 jam 3 sore, sedang enak2 nya baca koran di ruang tamu rumah mertuaku sambil minum kopi, Si Ami ( anaknya adik ibu mertuaku yang masih ...
  • Merawat Mama
    Liburan semester, Musa tak bisa kemana-mana, karena harus merawat mama-nya. Mamanya mendapat kecelakaan lalu lintas, hingga betisnya mengala...
  • Tidur Dengan Kakak Ipar
    Ketika aku menikah dua tahun yang lalu, rasanya dunia ini hanya milikku seorang. Betapa tidak, aku mendapatkan seorang pria yang menjadi im...
  • Dilema (Mama)
    Namaku Rio umur 16 th,anak tunggal dan masih sekolah SMK otomotif kelas 2 di Yogyakarta. Aku pendiam dan tak pandai dalam hal pergaulan, ta...
  • Salahkah Aku Menikmati Saat Ku Di Perkosa?
    Cerita ini merupakan cerita yang terjadi antara diriku dengan seorang lelaki yang telah tega memperkosaku meskipun aku akhir nya menikmati ...
  • Anak Petani - BAB 11 (Last)
    Anak Petani BAB 11 (Last) " Arjuna terbangun horny. Ia bermimpi sedang berhubungan seks dengan ibu tirinya. Ia bermimpi sedang menge...
Copyright © Harapan Putra All Right Reserved
Template by SEO Template